Mengungkap Surga tersembunyi di Pesisir Timur Kei Besar dalam Seminar dan Launching Hasil Ekspedisi Zooxanthellae XV

WhatsApp Image 2019-02-08 at 18.03.56

Pada tahun 2016 Kementerian Pariwisata menganugerahkan gelar “Surga Tersembunyi Terpopuler” pada Kepulauan Kei, di awal tahun 2019 ini sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam organisasi mahasiswa Fisheries Diving Club –  IPB mengungkapkan surga tersembunyinya dalam hasil eksplorasi bahari dan sosial budaya yang dilakukan pada Ekspedisi Zooxanthellae XV lalu. Seminar ekspedisi Zooxanthellae XV ini diselenggarakan pada hari Selasa (05/02/2019), di Auditorium Andi Hakim Nasution. “Acara ini merupakan acara organisasi mahasiswa yang dihadiri oleh seluruh jajaran petinggi FPIK” ujar Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan – IPB,  Dr. IrWhatsApp Image 2019-02-08 at 18.03.53. Luky Adrianto, M.Sc dalam sambutannya di awal acara ini berlangsung.

Seminar hasil ini dibuka dengan tarian daerah selamat datang dari Kei yaitu tarian kipas, tarian ini dibawakan oleh beberapa anggota FDC untuk menyambut para peserta dan tamu undangan yang hadir dalam acara ini. Kemudian acara dilanjutkan oleh seminar hasil yang memaparkan kondisi bahari dan sosial budaya di Pesisir Timur Kei Besar yang menjadi lokasi ekspedisi kemarin. “Secara umum kondisi ekosistem terumbu karang yang terdapat di lokasi pengamatan masih dalam kondisi yang baik dan cukup terjaga” ujar tim pemapar hasil ekspedisi, selain itu faktor budaya “Sasi” juga turut andil dalam menjaga kelestarian ekosistem.

Berbagai tokoh di berbagai kalangan menjadiDSC06077narasumber dalam Talkshow yang bertajuk “Menapaki Tanah Kei dengan Ekowisata Bahari berbasis Kearifan Lokal” ini seperti dosen FPIK-IPB yang menggeluti sektor wisata dan konservasi Dr. Ir. Fredinan Yulianda, M.Sc, Wakil Bupati Maluku Tenggara  Ir Petrus Beruatwarin,M.Si, dan Andreas Hero Ohoiulun sebagai Project Leader WWF IBAS. “Berbagai potensi wisata di kei yang masih belum banyak diketahui, tidak perlu ke luar negeri untuk mendapatkan itu semua, karena semua sudah tersedia di kei. Jangan anggap semua ini warisan nenek moyang kita, ini adalah titipan anak cucu kita.” Ujar Hero sebagai salah satu narasumber dalam talkshow ini. “Apabila kita jaga alam, maka alam akan jaga kita” menjadi kalimat penutup talkshow kali ini dari bapak Wakil Bupati Ir Petrus Beruatwarin,M.Si.

WhatsApp Image 2019-02-08 at 18.04.01Setelah talkshow berakhir para peserta seminar diajak untuk bergoyang bersama dalam goyang Meti Kei, tak menyurutkan semangat meskipun hari sudah menjelang sore terlihat peserta dan tamu undangan antusias mengikuti goyang Meti Kei yang dilakukan oleh panitia Meti Kei, goyangan ini membawa atmosfer di tanah kei berkungjung di bawah langit Bogor ini. Meskipun acara ini dilakukan pada tanggal merah, namun berbagai tamu yang hadir dari berbagai kalangan seperti Dosen, Klub Selam dari UGM,Yogyakarta, ITB, Bandung dsb, serta Mahasiswa lingkup IPB maupun luar IPB, dan Organisasi Mahasiswa IPB lainnya sangat menikmati acara ini.

Teks oleh: FRD

WhatsApp Image 2019-02-08 at 18.04.00

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *