Klub selam ilmiah mahasiswa tertua di Indonesia dalam acara deep and adventure terbesar se-Asia tahun 2018

IMG_2100

Narasumber Talkshow FDC di Deep and Extreme Indonesia 2018

( Dari kanan gambar: Mas Randi Rastu R., Fakhrizal Setiawan, Uus Abdul Kudus, Budhi Hascaryo I.)

Jakarta– Sabtu malam (13/03/2018) klub selam FDC-IPB kembali mengisi talkshow yang berjudul “Pengaruh fun diving Terhadap Ekosistem Terumbu Karang” di Deep and Extreme Indonesia 2018 yakni sebuah event pameran alat olahraga selam (dan lainnya) terbesar se-Asia yang diselenggarakan setiap tahun di Hall B, Jakarta Convention Center. Talkshow yang berdurasi cukup singkat ini mengangkat isu kelautan yang sudah dikenal sejak lama dan hampir setiap pengisi lapisan masyarakat tahu akan hal tersebut. Mirisnya, respon dari isu tersebut justru masih kurang dan bisa dianggap sudah biasa oleh beberapa pihak.

Kondisi ekosistem terumbu karang di dunia terutama di Indonesia sebagai negara yang merupakan salah satu marine hotspot di dunia semakin hari semakin membutuhkan perlakuan yang lebih baik dengan intensitasnya yang jauh lebih sering harusnya. Sebagai salah satu klub selam mahasiswa yang aktif bergerak menjadi salah satu penggiat dalam kegiatan penyelaman juga ikut serta dalam menyoroti langsung kondisi ekosistem terumbu karang melalui berbagai kegiatan rutin seperti Ekspedisi Zooxanthellae, CORALATION dan lainnya. Hal tersebut yang mendasari FDC-IPB ikut menanggapi isu kelautan melalui sebuah talkshow mengenai kondisi ekosistem terumbu karang saat ini yang dipengaruhi oleh kegiatan wisata diving.

“Hal-hal yang sering dilakukan selama wisata fun diving seperti fins yang mengaduk-aduk substrat, menginjak karang, memegang serta mematahkan karang menjadi salah satu penyebab rusaknya terumbu karang dan ikut serta berpengaruh terhadap ekosistemnya” ujar Bang Mas Randi R.R (Narasumber-Dive Mater). Perilaku seorang penggiat dalam kegiatan penyelaman akan menentukkan pengaruh serta dampak terhadap kondisi ekosistem terumbu karang. Apabila perilaku-perlaku tersebut terus berlanjut dilakukan maka tentu saja masa depan terumbu karang akan terancam. Seperti yang dikatakan oleh Bang Uus A.K (Narasumber-pembina, instruktur POSSI) yaitu Terumbu karang adalah makhluk hidup yang bersifat fatik yaitu setelah berkali kali patah maka akan berhenti reproduksi dan membutuhkan waktu yang cukup lama dalam proses pemulihannya.

Pak Budhi H.I (Narasumber-Pendiri, pembina dan intruktur FDC-IPB) mengungkapkan bahwa ada tiga hal yang harus dimiliki oleh seorang penyelam yakni skill, knowledge, dan attitude. Ketiga hal tersebut tentu saja dapat mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Selain perilaku seorang penyelam, lokasi pemilihan lokasi untuk wisata diving juga ikut berperan dalam keberlangsungan ekosistem terumbu karang. “Tidak semua tempat dapat dijadikan sebagai lokasi penyelaman apalagi untuk kegiatan wisata diving seperti fun diving” ujar Bang Fakhrizal S (Narasumber-Wildlife Conservation Society). Dua hal tersebut tentu saja dapat dijadikan bahan pertimbangan serta bahan evaluasi terhadap pengelolaan  kerusakan ekosistem terumbu karang kedepannya. Penyuluhan informasi, rambu-rambu lalu lintas dan guide yang baik pun dapat mencegah perilaku penggiat penyelam untuk tidak melakukan hal yang salah dan merugikan. Namun, tentu saja hal tersebut tidaklah mudah untuk dioptimalisasi sehingga mulai dari diri kita senidri untuk melakukannya lalu baru ajak yang lainnya untuk melakukan hal yang sama seperti yang kita lakukan.

Antusias dari orang yang datang di talkshow ini sangat terlihat dari berlangsungnya sesi penutup talkshow yaitu sesi diskusi dan tanya-jawab.

“Semua orang memang berkesempatan untuk menyelam tapi hanya sedikit orang saja yang berkeinginan untuk mencari kesempatan menjadi seorang penyelam yang peduli terhadap alam”- Waspada Dira Anuraga

Text by : Siti KhodijahIMG_2137

Suasana ketika sesi tanya jawab 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *