Mutiara Nan Indah di Tanah Rempah

Indonesia negeri yang kaya, berjuta pesona dan keindahan alam berada didalamnya. Mulai dari daratan hingga lautan, tersimpan jutaan mutiara nan indah didalamnya. Tak hayal kita menjadi pusat perhatian oleh beberapa negara di seluruh dunia. Berabad-abad lamanya kita dijajah oleh bangsa-bangsa yang lebih besar dari kita, hanya untuk mendapatkan hasil bumi yang melimpah di negeri kita. Salah satunya berada di provinsi Maluku tepatnya berada di daerah Kepulauan Banda, Maluku Tengah.

Pelabuhan Banda Naira, pintu masuk jalur pelayaran

Pelabuhan Banda Naira, pintu masuk jalur pelayaran

Kepulauan Banda terdiri dari 10 pulau, yaitu pulau Naira, Banda Besar, Hatta, Gunung Api, Syahrir (Pulau Pisang), Rhun, Ai, Karaka, Nailaka, dan Manukang. Tiap-tiap pulau memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri yang harus dikunjungi, mulai dari eksotisme bawah laut yang berkilau seperti mutiara, gunung api yang menyuguhkan pemandangan fantastis, wisata kota sejarah adat dan kolonial yang agung serta mistis, sampai sejarah nasional tentang pengasingan tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan. Semua dapat ditemukan di Kepulauan Banda. Tak hanya itu, kantor VOC di daerah Hindia Belanda pertama kali didirikan di Banda Naira, bahkan pulau Rhun juga pernah diklaim oleh ratu Inggris pada tahun 1602 sebagai bagian dari kerajaan Inggris.

Keagungan dan keunikan kisah sejarah kepulauan Banda tersebut tak lain berasal dari kualitas rempah-rempah yang terbaik di nusantara, yaitu komoditi pala yang unggul. Tak heran Pulau Banda Naira sangat kaya akan sejarah, mulai dari tempat pusat perdagangan rempah-rempah, seperti pala, cengkeh, dan kayu manis. Hasil bumi inilah yang menjadi incaran bangsa-bangsa Eropa, seperti Portugis, Inggris hingga Belanda yang ingin menguasai Indonesia. Serta banyak ditemukan bangunan bersejarah yang membuat pulau ini memiliki nuansa seperti kota tua.

Cengkeh (atas), kayu manis (kiri bawah), dan biji pala (kanan bawah) merupakan hasil rempah-rempah di Pulau Banda

Cengkeh (atas), kayu manis (kiri bawah), dan biji pala (kanan bawah) merupakan hasil rempah-rempah di Pulau Banda

Keagungan dan keindahan Kepulauan Banda tidak hanya di daratan saja. Lautan Banda pun menyimpan jutaan pesona mutiara nan indah yang tergabung di dalam satu ekosistem terumbu karang, mulai dari komunitas karang yang sangat baik, penuh warna dan beragam, ikan terumbu yang menyuguhkan atraksi fantastis dan kelincahannya, serta makrobenthos si kecil yang selalu terlihat fotogenik dan menawan.

Tak hanya itu, terdapat sekitar 22 titik penyelaman yang siap untuk diselami oleh para pengunjung yang ingin berwisata di Kepulauan Banda. Bahkan terdapat tiga tipe terumbu karang yang ditemukan, ialah tipe slope (miring), flat (datar), dan wall (dinding). Kondisi perairan yang cukup tenang, ekosistem terumbu karang yang beragam dan merupakan jalur lalu lintas mamalia laut besar menjadikan Kepulauan Banda salah satu destinasi wisata bawah air yang paling menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.

Akses, Infrastuktur dan Masyarakat

Akses menuju pulau Banda Naira dapat ditempuh menggunakan jalur udara dan laut. Perjalanan menggunakan pesawat dari Jakarta – Ambon berkisar antara 3 sampai 4 juta rupiah dengan memakan waktu sekitar 4 jam. Setelah itu, perjalanan dari Ambon – Banda Naira dapat ditempuh dengan jalur laut selama kurang lebih 6 jam menggunakan kapal cepat Express Bahari 2B yang beroperasi dua kali seminggu dari Tulehu – Banda dan Banda – Tulehu dengan harga 410 ribu kelas ekonomi, 510 ribu kelas eksekutif, dan 650 ribu kelas VIP.

Perlu diketahui jalur laut menjadi moda transportasi yang utama bagi masyarakat di pulau tersebut. Walapun sudah dibangun bandara untuk pesawat perintis, hanya terdapat satu pelabuhan yang digunakan untuk bersandar kapal-kapal besar menuju pulau Banda, yaitu Pelabuhan Banda Naira. Selain melalui jalur laut, bisa juga melalui jalur udara, namun tidak ada jadwal dan maskapai penerbangan yang pasti.

Menyelami keindahan bawah laut Banda Naira

Menyelami keindahan bawah laut Banda Naira

Pesona bawah laut Banda Naira

Pesona bawah laut Banda Naira

Masyarakat kepulauan Banda mayoritas beragama Islam, sangat sedikit warga yang beragama non-muslim. Serta masyarakat Banda terdiri dari beberapa etnis, seperti etnis Jawa, etnis Cina, etnis Ambon, Bugis, dll. Namun keragaman dan perbedaan tersebut tak lantas menyurutkan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. Masyarakat kepulauan Banda sangatlah ramah kepada wisatawan lokal maupun mancanegara. Kehidupan sosial ekonomi masyarakatnya pun beragam, mulai dari nelayan, penyedia jasa wisata dan penginapan, pedagang, dan petani seperti pala, cengkeh dan kayu manis. Hal ini lah yang membuat pulau Banda menjadi primadona bagi wisatawan lokal dan mancanegara.

Bersama anak-anak Banda Naira di depan Benteng Belgica

Terimakasih Pulau Banda yang telah menyambut dan menerima ku dengan penuh kehangatan, keceriaan, dan keindahan alamnya. Semoga kelak dirimu tak menjadi sebuah legenda, yang keindahan alamnya hanya dapat di nikmati bak sebuah dongeng pengantar tidur saja. Semoga kita bertemu kembali dilain waktu dan kesempatan.

 

 

 

 

 

 

Oktober 2015 from Banda with love

(text : Praditio Anggoro / Dokumentasi : Praditio Anggoro)

2 comments on “Mutiara Nan Indah di Tanah Rempah”

  1. FDC-IPB

    Terima kasih telah membaca. Mari bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan, terutama laut. Salam :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *