Menunggu Negeri Bahari Menjadi Berarti Oleh: Doni Peryanto (Mahasiswa PSP-IPB & FDC-IPB)

Begitu banyak masyarakat dunia yang tahu akan negeri yang di selimuti perairan terbesar di dunia saat ini, negeri yang kaya akan potensi perikanan dan kelautannya, negeri yang tak luput dari pandangan negeri-negeri yang haus akan semburan dunia kemaritimannya, ya negeri itu adalah Indonesia. Negeri yang berlambangkan burung garuda yang selalu menengadah ke daratan, tanpa peduli akan potensi lautannya.

Harus berapa  lagi negeri ini kehilangan pulau-pulau  di perbatasan, harus berapa lagi kasus illegal fishing yang menghantui perikanan negeri ini. Terlalu banyak potensi perikanan negeri ini yang dijual dinegeri tetangga. Belum habis negeri ini di koyak di  daratan Pulau Cendrawasih, potensi perikanan di perbatasan pun juga ikut lenyap.

Belum ada pemikiran yang pemimpin negeri ini yang berorientasi pada kelautan dan perikanan negeri ini. Padahal negeri ini di selimuti 70 % lebih dari potensi perikanan dan kelautannya. Berbagai aspek yang belum mempuni untuk mendorong dunia perikanan dan kelautan di negeri ini. Potensi maritim yang sangat besar tanpa di dorong dari berbagai aspek, seperti aspek pertahanan, terutama di wilayah perbatasan. Paradigma yang bersifat centralisasi inilah yang merupakan salah satu penyebab munculnya permasalahan yang semakin bergejolak di negeri ini, terutama di wilayah barat dan timur Indonesia. Akankah negeri ini harus kehilangan Pulau Weh di ujung barat Sumatera, Pulau Landu di selatan NTT, atau Pulau Miangas di utara Sulawesi yang berbatasan dengan Filipina, atau bahkan bumi cendrawasih yang akan melepaskan diri. Seharusnya negeri ini mencetak para penerus bangsa yang memiliki jiwa kemaritiman yang selalu mengangkat potensi perikanan dan kelautan di negeri ini.

Nelayan tradisonal sedang menangkap ikan dengan jaringnya

Nelayan tradisonal sedang menangkap ikan dengan jaringnya

Jikala semua penerus bangsa ini memikirkan potensi perikanan dan kelautan di negeri ini, maka akan bergetar dan bergema selalu “JALESVEVA JAYA MAHE” di seluruh penjuru dunia. Berbagai Universitas ternama di negeri ini sudah memiliki bidang ilmu perikanan dan kelautan hampir di seluruh pulau besar di Indonesia. Keberadaan bidang ilmu ini belum banyak yang melirik dan masih jauh dari pantauan pemerintah. Seharusnya mendapat dukungan yang lebih untuk membangun dunia perikanan dan kelautan Indonesia di masa akan datang. Belum puas akan kehilangan potensi negeri ini, peluang sekaligus kesempatan bagi Negara asing untuk masuk ke wilayah Indonesia pun semakin berpeluang dengan adanya AFTA 2015, sehingga ini menjadi tantangan bagi Negara yang memiliki potensi perikanan dan kelautan terbesar di dunia ini. Karena, perdagangan bebas keluar masuk Negara anggota AFTA 2015 yang akan menjadi potensi sekaligus peluang bagi Negara tetangga untuk menguak potensi di negeri ini. Terutama wilayah di  sekitar perairan laut Tanimbar, perairan laut Aru dan sekitarnya yang di isukan menjadi gerbang utama jalur AFTA 2015.

 Lantas siapa yang peduli akan potensi bahari negeri ini??? Siapa lagi kalau bukan dari akademisi yang bergerak di bidang perikanan dan kelautan. Salah satunya adalah Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor (IPB). Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-IPB ini merupakan salah satu universitas di Indonesia yang memiliki bidang ilmu yang mampu akan menjawab tantangan Indonesia di bidang perikanan dan kelautan dunia masa akan datang. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-IPB memiliki bidang ilmu yang sangat mempuni untuk mengatasi permasalahan perikanan dan kelautan yang semakin dibutuhkan. Fakultas ini memilki bidang ilmu yang mampu menjawab tantangan dunia akan kebutuhan konsumsi ikan laut dan tawar (bidang ilmu Perikanan Budidaya), pengelolaan sumberdaya pesisir yang ramah lingkungan dan berkelanjutan serta kondisi stok ikan yang tersedia di perairan (bidang ilmu Manajemen Sumberdaya Perairan), pengaturan dan pengelolaan perikanan yang berkelanjutan tanpa merusak ekosistem (bidang ilmu Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap), pemetaan kondisi perairan bagi dunia perikanan dan kelautan yang berbasis teknologi (bidang ilmu dan Teknologi Kelautan), serta kebutuhan akan pangan dunia, obat-obatan dan pemanfaatan sumberdaya yang ada di perikanan dan kelautan (bidang ilmu Teknologi Hasil Perairan). Keberadaan bidang bidang ilmu tersebut juga akan menjawab tantangan Indonesia untuk bersaing di AFTA 2015, terutama di bidang perikanan dan kelautan.

Potensi kelautan Indonesia yang masih sangat luas

Potensi kelautan Indonesia yang masih sangat luas

Keinginan Fakultas Perikanan dan Kelautan-IPB ini untuk mengangkat dunia perikanan dan kelautan Indonesia juga didukung oleh beberapa organisasi mahasiswa perikanan dan kelautan yang bergerak di bidang Scientific Diving, salah satunya adalah Fisheries Diving Club-IPB (FDC-IPB) yang merupakan organisasi mahasiswa selam ilmiah pertama di Indonesia. Keberadaan Fisheries Diving Club-IPB (FDC-IPB) ini membuktikan akan kecintaan penerus bangsa ini akan dunia perikanan dan kelautan Indonesia, terlebih khusus dunia ekosistem terumbu karang. Organisasi ini mengeksplorasi potensi terumbu karang Indonesia yang di munculkan di skala Nasional maupun Internasional, dengan melakukan kegiatan eksplorasi yang sudah menjelajahi seluruh pulau-pulau terbesar di Indonesia, bahkan daerah potensi di wilayah perbatasan. Keberadaan organisasi ini membuktikan kesadaran  dari pemuda pemudi akan pentingnya menjaga potensi perikanan dan kelautan di negeri ini. Sangat dibutuhkan orang orang yang ingin dan mau berkembang untuk menjaga kelangsungan perikanan dan kelautan negeri ini. Jika paradigma ini semakin berkembang dan menyebar di seluruh penjuru nusantara ini, maka Indonesia tidak perlu lagi membutuhkan dana yang sangat besar untuk menjaga wilayah perikanan dan kelautan Indonesia.

Jikala paradigma ini terus dan semakin berkembang di jiwa pemuda pemudi bangsa ini, maka bergetar, bergema dan bersuara hingga di seluruh penjuru dunia “JALESVEVA JAYAMAHE”.

Semoga ini menjadi penyemangat baru bagi penerus bangsa ini, terutama penerus perikanan dan kelautan Indonesia. Kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi. Kalau bukan sekarang, kapan lagi.

­_WASPADA DIRA ANURAGA_

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *