Pelatihan Penilaian Kondisi Terumbu Karang Bidang Ikan Terumbu

Kegiatan pelatihan kondisi terumbu karang bidang ikan terumbu masih berlanjut. Kegiatan yang dilaksanakan selama 7 hari mulai dari tanggal 23 – 29 Oktober 2016, di Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O LIPI) dan UPT Loka Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Manusia Oseanografi Pulau Pari, Kepulauan Seribu. Peserta pada kegiatan ini berasal dari berbagai instansi, seperti ADB, WB, UMRAH, UNDIP, UNHAS, UNSRAT, UI, IPB, STP, LSM, dan Taman Nasional. Setelah mengikuti kuliah umun dari Prof. Dr. Suharsono, selanjutnya Aflaha A. Munib dan Praditio Anggoro (Diklat 31) dan 30 peserta lainnya siap melanjutkan rangkaian pelatihan monitoring kesehatan terumbu karang bidang ikan terumbu di Pulau Pari untuk mendata ikan indikator, yaitu famili Chaetodontidae.   

Pelatihan ini merupakan pelatihan dalam rangka mengemban misi COREMAP-CTI Fase III yaitu Penguatan Kelembagaan. LIPI bekerjasama dengan beberapa universitas yang ada di Indonesia bersama melakukan kegiatan pelatihan pemantauan kondisi ikan terumbu. Dengan dilakukannya kerjasama ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan tenaga penilai kondisi ikan terumbu yang berkompeten, terutama di daerah lokasi COREMAP-CTI.

tangkapan-layar-2016-11-04-18-53-55

Simulasi darat metode UVC untuk meningkatkan pemahaman peserta dalam mengaplikasikan kegiatan di lapang

Seluruh peserta diajarkan dan diberi pembekalan terkait metodologi penilaian kondisi ikan terumbu, pemahaman tentang penilaian ikan terumbu, penyamaan persepsi dalam identifikasi bidang ikan terumbu tingkat madya atau famili Chaetodontidae. Selain itu dilaksanakan simulasi darat mengenai metode UVC (Underwater Visual Census), pengolahan data, tata cara penulisan laporan yang baik, dan persentaasi laporan secara sistematik dan ilmiah. Total rangkaian pelatihan terdiri dari 10 jam mata latih (materi utama), 26 jam praktik metode UVC, 8 jam pengolahan dan analisis data, serta 11 jam penyusunan laporan dan persentasi.

Selain mendapatkan ilmu mengenai survey ikan terumbu, peserta juga mendapat pengalaman bertemu teman-teman baru dari seluruh Indonesia. Secara keseluruhan, kegiatan ini berjalan lancar dan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. “Terima kasih kepada para pengajar, instruktur dan pantia pihak LIPI. Semoga ilmu yang diperoleh dapat diaplikasikan kedepannya dan semoga silaturahmi yang ada tetap terjalin”, ujar Pak Dedy Sabaruddin, salah satu peserta dari Buton dan juga ketua kelas dalam kegiatan pelatihan ini.

 

Text : Aflaha Abdul Muunib | Dok : FDC-IPB | Editor : Tri Nur Sujatmiko

Share
Categories: Story | Leave a comment

MantaWatch Internship Program 2016

11092016_4

Peserta MantaWatch Internship Program 2016 (dari kiri-kanan: Tri Nur Sujatmiko (IPB), Amelia Nurkumala (UNDIP), Retno K. Ningrum (UNPAD), Rafid Shidqi (UNSOED))

MantaWatch merupakan organisasi yang  berpusat di Inggris. didirikan pada tahun 2010 dengan tujuan meningkatkan kesadaran, ketersediaan data, dan  penelitian manta dalam kegiatan konservasi pari manta. Salah satu program yang dijalankan oleh MantaWatch adalah MantaWatch Internship Program (MIP) yang bertujuan memberikan kesempatan kepada mahasiswa/i di Indonesia  belajar sebagai pemimpin  masa depan di bidang kelautan dan perikanan serta kegiatan konservasi di Indonesia. Program ini sudah berjalan sejak tahun 2012 dan didukung oleh Guy’s Trust, sebuah donatur dari Inggris yang mendukung kegiatan sosial  di Nepal dan Kamboja serta kegiatan konservasi kelautan di Labuan Bajo, Indonesia.

Tahun ini merupakan tahun kelima MIP yang diikuti oleh 4 mahasiswa, yaitu dari IPB, UNDIP, UNSOED, dan UNPAD. Program dilaksanakan selama 4 minggu dari tanggal 11 September – 8 Oktober 2016 di perairan Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT. Minggu pertama merupakan edukasi, dimana para intern diberi pemahaman mengenai program MantaWatch, Manta Survey, dan pelatihan Advance Open Water bersama PADI. Minggu kedua merupakan penelitian, dimana intern melaksanakan survey pari manta di perairan Taman Nasional Komodo, mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari sebelumnya. Minggu ketiga merupakan kolaborasi, dimana intern melakukan kolaborasi dengan SDN 1 Labuan Bajo dan SMKN 1 Labuan Bajo untuk memberikan pemahaman mengenai pari manta dan kebersihan lingkungan, serta melakukan penelitian bersama Conservation International dalam upaya konservasi pari manta. Minggu keempat adalah evaluasi, dimana intern melakukan presentasi akhir kepada Balai Taman Nasional Komodo dan wisatawan di Le Pirate sekaligus memperoleh informasi mengenai pengembangan karir di bidang konservasi oleh Hollie Booth dari Wild Conservation Society (WCS) dan Cornelia Rindth dari Nature Bank.

img_68901

Foto bersama setelah survey manta bersama kru Dive Komodo dan Direktor MantaWatch, Andrew Harvey (kiri)

Kegiatan Internship yang dilaksanakan oleh MantaWatch memiliki banyak manfaat, terutama dalam mengembangkan karir bagi intern di bidang konservasi, meningkatkan wawasan mengenai cara untuk mensukseskan suatu upaya konservasi, serta pentingnya melakukan kolaborasi dengan pihak yang terlibat untuk menjadikan suatu program berjalan sukses.

 

 

 

DCIM100GOPROG0088800.

Photo ID, merupakan metode yang digunakan dalam konservasi pari manta, dimana setiap manta memiliki bentuk corak yang berbeda dibagian sisi perut

 


 

Text : Tri Nur Sujatmiko | Dokumentasi : MIP 2016

Share
Categories: Story | Leave a comment

Pelatihan Monitoring Ikan Terumbu Bersama P2O LIPI

 

mptk-ikan-terumbu-8

Pemaparan materi oleh Prof. Dr. Suharsono

Senin, 24 Oktober 2016, dua anggota Fisheries Diving Club IPB, yaitu Aflaha A. Munib (Diklat 31) dan Praditio Anggoro (anggota luar biasa Diklat 31) mengikuti kuliah umun berjudul “Pengaruh Perubahan Iklim Global Terhadap Biologi, Fisiologi, dan Sebaran Ikan”. Kuliah ini merupakan pengantar dalam kegiatan pelatihan monitoring kesehatan terumbu karang bidang ikan terumbu yang disampaikan oleh ahli terumbu karang Indonesia, Prof. Dr. Suharsono yang diadakan oleh Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O LIPI), Ancol.

Penyampaian materi pokok kuliah dimulai dengan pemaparan tujuan kegiatan oleh Pak Suharsono yaitu kegiatan atau pelatihan ini mengacu pada peraturan Kementrian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (Menristek) terkait pentingnya sertifikasi kompetensi untuk menghadapai era globalisasi, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), dan era digital pada perkembangan jaman kedepan.

mptk-ikan-terumbu-7

Didit (Kiri) dan Aflaha (Kanan) foto bersama Prof. Dr. Suharsono (Tengah)

Inti dari kuliah tersebut, beliau menyampaikan bahwa perubahan perairan seperti kenaikan suhu, pH, terutama faktor kimia-fisik laut mempengaruhi dalam sifat atau tingkah laku dari ikan. Contohnya adalah fenomena bleaching (pemutihan karang), kenaikan muka laut, dan perubahan sirkulasi (El Nino) mempengaruhi terhadap sebaran ikan. Selain itu juga peserta diberi pengenalan terhadap identifikasi ikan dari Family Chaetodontidae atau sering dikenal ikan kepe-kepe yang merupakan jenis ikan indikator di ekosistem terumbu karang. Yang mengesankan dari kegiatan ini adalah materi disampaikan dengan sangat sederhana dan jelas sehingga peserta yang berasal dari seluruh Indonesia dapat memahami dengan baik. “Ini merupakan pengalaman berkesan buat saya dan harapannya ilmu yang didapatkan dapat berguna buat pengembangan karir saya”, ujar Parditio Anggoro yang biasa di akrab Didit.

 

Text : Aflaha Abdul Munib | Dokumentasi : FDC-IPB | Editor : Tri Nur Sujatmiko

Share
Categories: Story | Leave a comment

Tingkatkan Keilmiahan dengan Memahami Kesehatan Karang

Penyampaian materi Kesehatan Karang oleh Bang Begin

Fisheries Diving Club (FDC-IPB) dibentuk dengan tujuan menyalurkan minat mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan dalam bidang olahraga selam dan meningkatkan kemampuan pendidikan serta teknis kegiatan observasi bawah laut secara tepat, baku, dan aman. Salah satunya yaitu menunjang kegiatan–kegiatan ilmiah dalam bidang kegiatan observasi bawah laut. Oleh karena itu, tanggal 12 Oktober 2016 di ruang sekretariat FDC, dilaksanakan kuliah mengenai Coral Health (kesehatan karang) yang disampaikan oleh salah satu dosen dari Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Institut Pertanian Bogor dan juga merupakan salah satu anggota luar biasa (alumni) FDC sekaligus pembina FDC, Bang Beginer Subhan (Diklat 15 FDC-IPB).

coral-health-1

Suasana ketika penyampaian materi berlangsung

Materi yang disampaikan mengacu kepada Indo-Pacific Coral Health yang di dalamnya menjelaskan terkait kesehatan karang, seperti predation, coloured band diseases, tissue discolouration, growth anomalies, dan sebagainya. Sehingga melalui kuliah ini diharapkan mampu meningkatan kualitas keilmiahan dan pengetahuan anggota FDC terutama dalam kegiatan observasi bawah laut dan penelitian yang berhubungan dengan kesehatan dari hewan karang. “Terimakasih untuk bang Begin atas Ilmunya, semoga bermanfaat untuk kami dan dapat diimplementasikan dalam bentuk penelitian” ujar Ahmad Eko Suprianto, selaku Ketua FDC.

 

Text : Aflaha Abdul Munib | Dokumentasi : FDC-IPB | Editor : Tri Nur Sujatmiko

Share
Categories: Story | Leave a comment

Perdalam Teori Two Star SCUBA bersama Instruktur FDC

Bogor – Setelah melewati tahap Skin, SCUBA, dan Latihan Perairan Terbuka (LPT), sebanyak 9 orang Diklat 34 FDC-IPB telah memasuki tahap Simulasi, yaitu rangkaian terakhir dari proses pendidikan dan latihan yang fokus dalam pengambilan data ekosistem terumbu karang. Tahap ini melatih masing-masing individu Diklat untuk belajar pengambilan data terumbu karang, ikan terumbu, dan makrobenthos. Tahun ini kegiatan simulasi Diklat 34
bernama CORALATION V (Coral Reef Ecosystem Monitoring and Simulation V) yang merupakan kegiatan tahunan dimulai dari diklat 30 (tahun 2012) di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Sehingga dalam kegiatan ini setiap diklat diharuskan untuk melaksanakan pelatihan kenaikan jenjang selam A2 (Two Star SCUBA).

kuliah-a2

Penyampaian materi dari Instruktur FDC, Bang Uus Abdul Kudus

Sebelum melaksanakan praktek di lapang, tentunya pemberian teori di kelas penting dilakukan agar setiap diklat memiliki wawasan mengenai ilmu yang akan dilaksanakan nantinya. Materi diberikan langsung oleh Bang Uus Abdul Kudus yang merupakan salah satu alumni FDC (anggota luar biasa) Diklat 11 dan sekaligus instruktur selam FDC. Kegiatan ini diikuti oleh 22 orang anggota FDC lainnya untuk me-refresh materi-materi Two Star SCUBA. Kegiatan ini dilaksanakan tanggal 13 Oktober 2016, bertempat di Sekretariat FDC.

Materi yang disampaikan yaitu Navigasi, Penyelaman dalam (deep dive), dan penyelaman malam (night dive) sebagai syarat sertifikasi A2 yang nantinya akan dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan CORALATION V. Selain itu, Bang Uus juga menyampaikan beberapa saran dan masukan untuk teknis kegiatan di lapangnya nantinya. “Melalui pemberian materi dari instruktur diharapkan dapat diaplikasikan saat kegiatan sertifikasi di lapang nanti”, ujar Karizma, Koordinator Divisi Penelitian dan Pengembangan (Litbang) FDC.

 

Text : Aflaha Abdul Munib | Dokumentasi : FDC-IPB | Editor : Tri Nur Sujatmiko

Share
Categories: Story | Leave a comment

Meningkatkan Wawasan Kemaritiman Melalui Ekspedisi Nusantara Jaya (ENJ) 2016

Ekspedis Nusantara Jaya (ENJ) merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh  Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Republik Indonesia (KEMENKO MARITIM) dengan tujuan meningkatkan konektivitas di pulau-pulau terdepan, terpencil, dan wilayah perbatasan melalui peningkatan akses terhadap kebutuhan bahan pokok harian, fasilitas kesehatan, fasilitas pendididikan, sarana, dan prasarannya guna tercapainya percepatan pembangunan di wilayah perbatasan. Program ini dilakukan untuk mendukung program pemerintah terkait Nawacita 1 dan 3.

Tahun ini Fisheries Diving Club (FDC) IPB mengirim dua delagasi yaitu Ahmad Eko Suprianto (FDC.XXXII.02) dan Zainal Fahrudin (FDC.XXXIII.23) yang tergabung kedalam region Jawa Barat dengan jumlah peserta 43 orang yang terdiri dari mahasiswa IPB, ITB, UNPAD, dan umum yang berdomisili di Jawa Barat. Peserta yang tergabung dalam tim ENJ diwajibkan membuat esai dengan tema “Jayamahe Jayamaha”. Program ini dilaksanakan sejak tanggal 1-8 Oktober 2016 yang dilaksanakan di Pulau Harapan dan Kelapa, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.

bermain-sabil-belajar

Bermain sambil belajar

Kegiatan ini terbagi menjadi 3 divisi yaitu : pendidikan, budaya, dan lingkungan. Semua divisi tersebut saling bersinergis untuk mencapai esensi dari program ini. Divisi pendidikan mengajak anak-anak untuk gemar mengaji dan membaca dengan sasaran anak-anak Taman Baca Masyarakat, mengenalkan komputer, membuat kelas inspirasi dengan menceritakan tokoh sukses yang diambil dari peserta ENJ itu sendiri, mengenalkan kepada anak-anak SD tentang ilmu sains lewat demonstrasi alat peraga sains dan percobaan-percobaan unik, serta mengajak anak-anak untuk inovatif dan berekreasi serta mengeksperisikan diri dan potensi lewat pentas seni.

DCIM104MEDIA

Transplantasi Karang, sebagai media rehabilitasi ekosistem

Divisi budaya bertugas dalam melakukan analisis terhadap kearifan lokal di daerah tersebut, seperti penggunaan bubu sebagai alat tangkap ikan dan menggali potensi anak-anak Pulau Harapan dan Pulau Kelapa.  Divisi lingkungan melakukan kegiatan coastal clean up di Pulau Belanda dan Pulau Bira, penyuluhan mengenai bahaya buang sampah sembarang, transpalasi karang sebagai upaya untuk rehabilitasi terumbu karang, dan penanaman mangrove sebagai bentuk pentingnya mangrove untuk menahan erosi pantai dengan target anak-anak SDN 1 Pagi Harapan.

 

 

Berdasarkan aspek target wilayah, program ini bermanfaat dalam membantu masyarakat Pulau Kelapa dan Harapan terutama dalam hal pembimbingan belajar, pengembangan diri, dan pendidikan karakter untuk anak usia sekolah dan ekonomi kreatif kepada masyarakat. Sedangkan bagi peserta ENJ sendiri kegiatan ini dapat menjadi sarana untuk meningkatkan wawasan kemaritiman dan sarana pembelajaran terhadap pengabdian ke masyarakat.

bibit-transpalasi-karang

Bibit transplantasi karang

penanaman-mangrove-bersama-anak-sd

Penanaman mangrove bersama siswa SDN 1 Pagi Harapan

coastal-clean-up-pulau-bira

Coastal Clean Up di Pulau Bira

Teks : Ahmad Eko Suprianto dan Zainal Fahrudin | Editor : Tri Nur Sujatmiko | Dokumentasi : Tim ENJ 2016


 

Share
Categories: Story | Leave a comment

Kuliah Umum bersama Menteri Kelautan dan Perikanan RI

img-20161013-wa0015

Ibu Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan RI di dampingi oleh ‎Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, M.Sc (Rektor IPB)

13 Oktober 2016, anggota FDC IPB Sari Indiani Putri (diklat 31), Tri Nur sujatmiko (diklat 31), Dede Riyanto (diklat 33), Eko Zudah (diklat 33), Zainal Fahrudin (diklat 33), dan Christoforus Aries Tirta (diklat 30) berkesempatan menghadiri kuliah umum bersama Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Ibu Susi Pudjiastuti. Materi kuliah umum adalah “Kedaulatan Perikanan dan Melalui Pemberantasan Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU) Fishing”. Kuliah umum ini dihadiri oleh Rektor Institut Pertanian Bogor, Rektor Institut Teknologi Sepuluh November, Rektor Universitas Hasanuddin, Rektor Universitas Sam Ratulangi, Direktur CTI-CFF (Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, and Food Security), dan civitas IPB. Kuliah umum ini diawali dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara IPB – KKP, Balitbang KP – Dekan FPIK IPB, IPB – CTI CFF, IPB – ITS, ITS – CTI CFF, UNHAS – CTI CFF, dan UNSTRAT – CTI CFF.

img_20161013_093821

Pendatangan MoU antara IPB dengan KKP

“Sekilas tentang IUU Fishing yaitu kegiatan eksploitasi berlebih terhadap stok ikan, kerusakan kolateral ekosisitem, dan kerugian negara. Harapan dengan adanya penanggulangan IUU Fishing ini adalah kita berusaha menjadikan perikanan kita ini terkelola secara modern dengan ciri Legal Reported and Regulated Fisheries. Secara global, sudah di estimasi dan sudah di publikasikan pada tahun 2009 hampir sekitar 250 triliun. Di Indonesia, tepatnya di Laut Arafura sudah 1 juta ton/tahun hilang akibat illegal fishing”- tutur guru besar FPIK IPB Prof. Dr. Ir. Indra Jaya, M.Sc.

Kuliah Umum yang disampaikan oleh Ibu Mentri mencangkup tindakan yang dilakukan pada illegal fishing, bagaimana para kapal dari negara tetangga masuk ke Indonesia. Seminggu setelah diangkat oleh Presiden untuk menjadi mentri, Bu Susi melakukan pertemuan dengan para dubes dari negara-negara yang berterkaitan dengan illegal fishing yaitu China, Vietnam, Malaysia, Philiphina, dan Australia dan semua setuju atas pertemuan pada hari itu. Bu Susi menerapkan peraturan dan tindakan penenggelaman kapal yang terlihat manfaat yaitu sudah berkurang kapal-kapal asing yang masuk ke wilayah perairan Indonesia dengan melihat hasil stasistik bahwa PDB sektor perikanan meningkat ketika nilai PDB di sektor lain menurun.

img_20161013_094720

Pemaparan Kuliah Umum bersama Ibu Susi

IUU Fishing tidak hanya melibatkan masalah perikanan, melainkan semua aspek yang dapat merugikan negara, seperti penyeludupan narkoba, penyelundupan miras, human traffic, penyeludupan senjata yang bisa mengancam kedaulatan dan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, Bu Susi meminta kepada akademisi dari setiap universitas agar secara objektif melakukan study tentang kebijakan, serta di perlukan usaha seluruh masyarakat Indonesia untuk menjaga kedaulatan Perikanan dan Kelautan Indonesia karena perikanan dan kelautan merupakan aset indonesia satu-satunya yang dimiliki.

teks : Sari Indriani Putri

Editor : Tri Nur Sujatmiko

Share
Categories: Story | Leave a comment

Happy Birthday Oseanik Unpad dan Nautika ITB

26 Agustus 2016, anggota FDC IPB Sari Indriani Putrid an Intan Destianis Hartati (Diklat 31) mengikuti kegiatan dies natalis Oseanik dan Nautika di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Kegiatan ini dinamakan DIVEROMENT. Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari. Kegiatan yang kami lakukan antara lain sosialisasi ke Sekolah Dasar di Pulau Pramuka, bersih bersih laut, dan transplantasi karang.

Kegiatan dimulai pada hari Jumat, 26 Agustus 2016. Peserta sampai diPulau Pramuka pada pukul 11.00 WIB. Setelah ishoma siang, kegiatan kami adalah sosialisasi ke SD di Pulau Pramuka dengan melukis tempat sampah yang nantinya akan kami letakkan di tersebar di Pulau Pramuka. Setelah sosialisasi, kami melakukan tour Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKPS) kami mengunjugi area pembibitan mangrove yang terletak di depan kantor TNKPS dan kawasan penangkaran penyu. Pada malam hari nya,kami melakukan sesi perkenalan dan breafing untuk kegiatan esok hari nya.

Area Penanaman Mangrove

Area Penanaman Mangrove

dive2

Penangkaran Penyu


Hari kedua tanggal 27 Agustus 2016 kegiatan dimulai pukul 09.00 dan dibagi menjadi dua tim yaitu tim pertama fun dive yang berlokasi di selatan Pulau Panggang atau spot Soft Coral dan tim kedua melakukan trasnplantasi karang di Pulau Pramuka setelah itu, kami melakukan bersih bersih laut yang diadakan oleh Diver Clean Action yang berlokasi di daerah keramba Pulau Panggang. Sampah yang terkumpul kami pisahkan sesuai jenisnya, yaitu sampah plastik, kaca, logam, dll.

1476366341315

Penyelaman setelah melakukan Coastal Clean Up dengan Diver Clean Action

Pada malam hari kami melangsungkan acara puncak dari acara DIVEROMENT yaitu sambutan dari ketua pelaksana, ucapan selamat ulang tahun dari peserta, makan ikan bersama, live music, dan tiup lilin sebagai acara puncak.

dive3

Acara Puncak DIVEROMENT


Teks : Sari Indriani Putri

 

Share
Categories: Story | Leave a comment

Ayo Dukung Kami

poster dukungan

Ayo dukung anggota FDC dalam MantaWatch Internship Program 2016 yang diadakan oleh Guy’sTrust. Program ini akan dilaksanakan di Pulau Komodo dan mereka akan belajar mengenai monitoring dan upaya konservasi pari Manta (pari terbesar di dunia). Tunggu apa lagi, segera tonton dan like video profil mereka di :

app.mantawatch.com/candidates/34    MIKO

app.mantawatch.com/candidates/40    SARI

 

Jangan lupa untuk share ke teman-teman dan kerabat terdekat ya :)

#SaveMantaRays

Share
Categories: Story | Leave a comment

Sayangi, Lindungi, dan Jaga Satwa Indonesia

Kamis, 2 Juni 2016 dua orang anggota FDC IPB mengikuti diskusi WWF yang bertempat di Pullman Hotel, Jakarta pusat. Diskusi tersebut dihadiri oleh pihak WWF sendiri, KKH-KSE, Kawbid Polri, Polda Bali, MUI, Perhimpunan Dokter Hewan, DPR RI, Garuda Indonesia, KEMENLU, Public figure, KKP dll. Dalam acara ini, diskusi yang dibicarakan adalah tentang perdagangan illegal satwal liar yang dilindungi. Pihak WWf sendiri menjelaskan, “perdagangan satwa liar meerupakan bisnis terbesar ke 5 di duniadengan omset 5 triliun. UUD di Indonesia yang menjelaskan tentang perdagangan satwa liar dibahas didalam UU No. 5 tahun 1990, dalam UU tersebut masih banyak satwa liar yang belum masuk kedalam kategori yang harus dilindungi, maka dari itu harus ada perubahan dalam UU tersebut. Contoh dari perdagangan satwa liar adalah perjual belikan gajah yang dilakukan secara online sehingga siapa saja bisa mengakses dan dengan mudah untuk membelinya. Gajah yang jual akan diambil gadingnya yang digunakan untuk perhiasan, pajangan, dll dan dijual d engan harga Rp 1.000.000 – Rp 20.000.000”.

Menurut pak Haerul Saleh (WWF), “ perdagangan satwa liar adalah suatu kejahatan terhadap satwa. Maraknya perdagangan gading gajah menyebabkan stastus gajah menjadu kritis. Dapat diketahui, kritis adalah golongan stasus hewan dibawah punah, itu artinya jika tidak diatasi, maka gajah di Indonesia akan memiliki stastus punah. 3 harimau disumatera mati setiap harinya. Kebutuhan tubuh hewan, dikonsumsi (ketika masih ada), contohnya seperti gading gajah, gading babi, karena mereka masih mengandalkan dan mempercayai terhadap tubuh satwa tersebut untuk perhiasan, untuk dipajang, sifat gengsi manusia,dll. Harimau sumatera memiliki 9 kasus, gajah memiliki 6 kasus, dan orang utan memiliki 2 kasus”

Dari pihak Dirjen Penegak Hukum memiliki kesulitan dalam perdagangan online. Sebab, ketika ditelusuri sampai lokasi, tidak didapatkan tersangka karena orang yang menjual tersebut memiliki banyak alamat dan dari situs yang dilacak merupakan forwad-an dari banyak situs sehingga untuk mencari sumbernya sangat sulit. Tugas dirjen penegak hokum sendiri yaitu bagaiman menjaga supaya habitat dapat diatasi. Dan menurut dirjen penegak hukum, UU No 5 tahun 1990 menerangkan hukuman yang tertera dalam UU tersebut termasuk ringan, karena pihak yang terjerat kasus perdagangan satwa liar hanya dikenakan hukuman 5 tahun penjara dan denda 10.000.000.

Menurut mba Dwi (WWF), tidak hanya satwa yang didarat yang di perjual belikan. Satwa di laut juga memiliki potensi besar untuk diperjual belikan misalnya penyu, dugong, paus, lumba-lumba, whale shark, dll. Penyu adalah satwa laut yang berpotensi di perjual belikan karena semua bagian tubuh penyu dapat dikonsumsi (telur, daging, sisik, karapas). Tingginya penjualan penyu di karenakan permintaan dari pembeli yang tinggi, harga permintaan yang tinggi (di Bali harga penyu sekarang Rp 5-8 juta).

Pihak KKP menjelaskan, selain penyu baru-baru ini adalah masalah whale shark di ambon. Di ambon, whale shark ditangkap sebanyak 2 ekor dan memiliki panjang tubuh mencapai 5 meter. Hasil tangkapan tersebut akan dikirim ke Cina. Selain whale shark, perdagangan satwa liar terjadi pada Parimanta. Parimanta adalah satwa yang statusnya dilindungi penuh sehingga dilarang untuk ditangkap, dikonsumsi, dan di perjualberlikan. Parimata yang ditangkap, diambil insangnya. Daerah yang masih melakukan perjualbelian Parimanta adalah di Kalmakera. Masyarakat di kalmakera menolak Kepmen dikarenakan Parimanta di daerah sana yang mudah di temui dan masyarakat sudah terbiasa akan kegiatan tersebut, dan tidak memikirkan dampaknya. Hukum tiap daerah berbeda karena pasal dalam pasal yang sama, tetapi pendekatan kepada masyarakat yang berbeda.

Pihak Kawid Polri menjelaskan bahwa otoritas Indonesia adalah tidak dapat menyelesaikan masalah untuk satwa di luar Indonesia. Fenomena transictment adalah pertukaran di perdagangan, contohnya adalah gading gajah yang masuk dari luar negeri akan ditukar dengan gading gadah Indonesia. Kerajinan di Bali dan Jogja adalah daerah konsumen terbesar penjualan karapas penyu. Sehingga Polri memiliki unit khusus untuk menyelesaikan masalah ini dengan cara memberi pelatihan LO kepada Polda untuk menyelesaikan masalah perdagangan satwa liar.

Masalah perdagangan satwa liar ini terjadi juga di Bali. Menurut Polda Bali, kasus ini terjadi karena stasus social masyarakat (gensi) dan banyaknya pelabuhan tikus di Bali yang kosong. Satwa yang dilindungi di Bali seperti bibit lobster, moncong babi, penyu,moncong hiu gergaji, dll. Di Bali daging penyu di masak dan dijual di rumah makan babi guling. Penyu merupakan hewan yang dijadikan simbolis dalam acara adat dan istiadat di Bali, semenjak ada peraturan jika penyu tidak boleh ditangkap, masyarakat (pemuka agama) menggantinya dengan hewan lain, walaupun ada beberapa adat dan istiadat masih menggunakan penyu untuk acara adat dan istiadat yang sakral dan harus menggunakan penyu.

Text : Sari Indriani

Share
Categories: Story | Leave a comment

Forum Penyelam Mahasisawa Indonesia (FoPMI) VII

Derawan – Tanggal 24-30 April 2016, Forum Penyelam Mahasiswa Indonesia (FopMI) kembali mengadakan Jambore ke-7. Jambore merupakan gathering tahunan FoPMI yang kali ini mengeksplorasi surge laut Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. Forum ini dibentuk sebagai wadah apresiasi aktivitas mahasiswa di bidang penyelaman, seluruh universitas di indonesia, dan forum ini bertujuan untuk mengembangkan jaringan penyelam mahasiswa dan publikasi aktivitas agar dapat terpublikasi secara nasional.

Tahun ini giliran club FIN-DC, Universitas Mulawarman, Balikpapan, Kalimantan Timur menajadi tuan rumah Jambore VII Fopmi. Jambore kali ini disertakan dengan kegiatan sebelumnya yaitu Jambore VI FoPMI yang diadakan di Kepuluan Krakatau, Lampung. Fisheries Diving Club (FDC  – IPB) turut serta dalam kegiatan Jambore VII tersebut, ialah Regitri Darmawan (ITK 51) dan Kevina Rizki (ITK 51) yang menjadi delegasi perwakilan FDC. Kegiatan ini diikuti pula oleh rekan-rekan penyelam dari Anemon Diving Club (Anemon DC – Universitas Lampung, Polinela Diving Club (Polinela DC) – Politeknik Negeri Lampung , Marine Diving Club(MDC) & Unit KegiatanSelam (UKSA-387) – Universitas Diponegoro, Gadjah Mada Diving Society (GADISO) & Unyil – Universitas Gadjah Mada, Fisheries Diving Club – Universitas Hassanudin, NAUTIKA – Institut Teknologi Bandung, serta Oseanik  – Univesrsits Padjajaran, serta club-club selam lainnya

Kegiatan diawali dengan acara pembukaan dan pelepasan yang dilakukan di auditorium Universitas Mulawarman yang berlangsung pada 25 April 2016. Kongres diakhiri dengan foto bersama seluruh cub selam di Indonesia, dilanjutkan dengan perjalanan darat menuju Derawan yang memakan waktu kurang lebih 1 hari.

Jambore sendiri dilakukan keesokan harinya (26/4) di Pulau Derawan. Lalu peserta dan panitia ditempatkan di rumah masyarakat sekitar atau sering disebut homestay. Jambore kali ini dimaksudkan sebagai ajang berkumpul, sharing sesame penyelam Indonesia, diskusi mengenai program kerja dan struktur organisasi yang akan mereka jalankan serta fun diving bersama. Fun diving yang dilakukan di Pulau Derawan dan Sangalaki. Selain melakuan fun diving bersama para peserta juga mendapat materi dari Mantawacth, Diver Clean Action, dan pelatihan tentang monitoring penyu di pulau Sangalaki, Kepulauan Derawan.

 

Teks : Regitri Darmawan

Share
Categories: Story | Leave a comment

Pembentukan Komunitas Sahabat Pulau Pari

Kegiatan FGD Pembentukan Komunitas Sahabat Pulau Pari dilaksanakan pada hari Kamis 19 Mei 2016 hingga hari Jumat 20 Mei 2016 di Pulau Pari, Jakarta. Pada kegiatan tersebut anggota FDC yaitu Firsta Kusuma Yudha (FDC.XXXIII.14) turut diundang sebagai salah satu partisipan dalam pembentukan Forum Sahabat Pulau Pari yang diadakan oleh UPT Loka Pengembangan Kompetensi SDM Oseanografi Pulau Pari – LIPI.

1

Pembentuk Komunitas Sahabat Pulau Pari

Kegiatan FGD Pembentukan Komunitas Sahabat Pulau Pari meupakan tindak lanjut dari Forum yang sebelumnya dilaksanakan di Jakarta mengenai pembentukan prosedur dan panduan konsep-konsep panduan aktifitas yang dilakukan relawan dalam komunitas. Secara umum FGD ini bertujuan untuk mendapatkan saran, kritikan, pendapat, dan masukan dari forum, pelaku komunitas, termasuk stakeholder dan masnarakat dari dalam maupun luar pulau terhadap konsep komunitas dan panduan aktivitas yang disusun sebelumnya.

2

Kegiatan aksi bersih pantai yang dilakukan di sekitar Star Beach, Pulau Pari

Peserta FGD ini terdiri dari stakeholder, masyarakat pulau, dan pelaku komunitas bidang penelitian dan lingkungan yang diantaranya adalah UPT LPKSDMO Pulau Pari, Kementrian Kelautan dan Perikanan, Komunitaas Peta Hijau, Fisheries Diving Club, WWF Indonesia, Mapala UI, WANADRI, Himasper IPB, dan Marine Buddies. Peserta kegiatan melakukan forum dalam suatu ruangan yang bertujuan mendapatkan output berupa satu pemahaman dan saling mendukung akan konsep program komunitas sahabat pulau pari, dan keikut sertaan forum, komunitas, stakeholder, dan masyarakat menjadi relawan di komunitas sahabat pulau pari. Peserta diajak untuk lebih mengetahui dan mengenal kondisi sebenarnya Pulau Pari, baik dari sisi lingkungan maupun sosial dan ekonominya.
Hari pertama kegiatan, peserta melakukan forum untuk menampung aspirasi, kritik, dan masukan dari masyarakat terhadap komunitas yang akan dibentuk. Selanjutnya dilakukan orientasi Pulau Pari untuk mengetahui kondisi sebenarnya yang terjadi pada pulau tersebut. Kemudian peserta kegiatan yang berasal dari komunitas bidang penelitian dan lingkungan mengadakan forum khusus untuk membahas masukan dan kritikan dari masyarakat untuk menentukan kegiatan yang tepat untuk dilakukan dalam Komunitas Sahabat Pulau Pari. Hari kedua diadakan aksi bersih pantai yang dilakukan oleh peserta FGD Pembentukan Komunitas Sahabat Pulau Pari. Setelah itu dilakukan orientasi bawah laut sekitar Pulau Pari, kegiata ini dilakukan untuk mengetahui kondisi ekosistem terumbu karang di sektitar pulau yang kemudian akan menjadi salah satu media kegiatan Komunias Sahabat Pulau Pari.
Kegiatan pembentukan Komunitas Sahabat Pulau Pari dicukupkan untuk tahun ini setelah kegiatan FGD tersebut. Selanjutnya akan dilakukan penyusunan modul-modul tata pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan oleh Komunitas Sahabat Pulau Pari. Komunitas Sahabat Pulau Pari itu sendiri baru mulai melakukan pembukaan pendaftaraan relawan pada tahun 2017 mendatang.

Teks: Firsta Kusuma Yudha | Dokumentasi: Tim Pembentuk Komunitas Sahabat Pulau Pari

Share
Categories: Story | Leave a comment

IMG_1443

[Hari Pendidikan Nasional] Setiap tanggal 2 Mei di peringati sebagai hari pendidikan nasional sebagai bentuk penghargaan terhadap Ki Hajar Dewantoro yang telah mempeloporkan pendidikan di Indonesia sejak zaman kolonialisme Belanda. Filosofi yang terkenal dari beliau yakni “Ing Ngarsa sung Tuladha, Ing Madya mangun karsa, Tut Wuri Handayani”. Foto ini diambil pada XPDC Zooxanthellae XIII di Pulau Sabu dimana setiap pagi hari tidak asing bagi kita melihat anak sekolah di Pulau Sabu.Tidak ada bus sekolah apalagi angkot, mereka harus berjalan kaki hingga beberapa kilometer untuk bisa sampai di sekolah. Di tengah keterbatasannya tidak ada raut kecewa dari mereka, yang ada raut semangat dari mereka untuk mencari ilmu. Itulah salah satu potret pendidikan di Indonesia timur.

Share
Categories: Story | Leave a comment

delegasi fopmi 1

Share
Categories: Story | Leave a comment

TALK SHOW “GALI PESONA BAHARI NUSANTARA DALAM EKSPEDISI ZOOXANTHELLAE”

Jakarta, Fisheries Diving Club (FDC IPB) dibentuk oleh mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor pada tanggal 6 Oktober 1987 atas keamaan bakat dan minat dan merupakan club selam tertua berbasis scientific diving di Indonesia. Pentingnya Club selam berbasis scientific di IPB berhubungan dengan kekayaan keanekaragaman hayati laut (marine biodiversity) Indonesia yang belum banyak dieksplor oleh masyarakat Indonesia, khususnya mahasiswa. Mahasiswa memiliki peran aktif dalam mempertahankan eksistensi keanekaragaman hayati laut. Melalui Organisasi Selam berbasis scientific diving, FDC IPB telah melakukan eksplorasi laut di berbagai wilayah Indonesia. Beberapa kegiatan rutin yang dilakukan FDC IPB antara lain pelatihan penyelaman dasar dan penyelaman ilmiah, serta kegiatan monitoring di Kepulauan Seribu. Kegiatan terbesar FDC IPB dilakukan setiap dua tahun sekali, yaitu Ekspedisi Zooxanthellae yang telah dilaksanakan sebanyak 13 kali hingga tahun 2014.

deepextreme2

Antusias peserta talk show di Cendrawasih Hall, JCC

Beberapa capaian telah diperoleh mahasiswa yang bergabung dalam FDC IPB. Melalui hasil yang diperoleh dalam Ekspedisi Zooxanthellae ke-3 berlokasi di Kepulauan Wakatobi (saat itu bernama Pulau Tukang Besi), rekan-rekan mahasiswa FDC dapat membantu memberikan rekomendasi pengelolaan kepada pemerintah setempat. Usaha eksplorasi tersebut mendukung penetapan wilayah tersebut sebagai Taman Nasional Wakatobi pada tahun 1996. Tanggal 31 Maret – 3 April 2016 tepat perayaan 10 tahun acara “Deep and Extreme Indonesia” berlokasi di Hall Cendrawasih, JCC yang merupakan acara Diving, Marine & Adventure terbesar di Indonesia, FDC IPB mengadakan acara talkshow bertajuk Ekspedisi Zooxanthellae dan sejarahnya. Saat acara talkshow tersebut, FDC IPB mengundang 3 alumni FDC sebagai pembicara, yakni Budhi Hascaryo Iskandar (Pendiri & Instruktur FDC IPB), Veda Santiaji (Coral Triangle Support Leader, WWF-ID), dan Imran Amin (Marine Program Director, TNC). Talkshow berlangsung selama satu jam mulai pukul 18:00-19:00 WIB pada hari Sabtu tanggal 02 APril 2016, diawali dengan pemutaran video Ekspedisi Zooxanthellae serta sambutan dan penjelasan singkat tentang FDC IPB oleh bapak Budhi Hascaryo selaku pendiri FDC IPB.
deepextreme3deepextreme1

deepextreme4

Foto bersama anggota FDC, alumni, dan pembicara,

Ekspedisi Zooxanthellae merupakan ekspedisi ilmiah yang bertujuan untuk mengeksplorasi keindahan bawah air, mengenal kehidupan masyarakat pesisir, mengetahui potensi alam yang dapat dikembangkan, menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan pesisir, dan memetakan kawasan di sekitar pesisir daerah tersebut. “Mahasiswa memiliki peran penting dalam hal konservasi khususnya keanekaragaman hayati pesisir, yang menjadi tantangan saat ini adalah luasan terumbu karang di Indonesia masih belum sepenuhnya di eksplorasi sehingga sangat dibutuhkan bantuan serta peran mahasiswa dalam upaya mengekslorasi ekosistem pesisir tersebut“ ujar Imran saat menjelaskan tentang pentingnya peran mahasiswa pada bidang scientific diving. “ Pada tahun 1994 saya dan teman teman FDC saat itu mengupayakan agar ekspedisi ke-3 dapat dilaksanakan diluar Pulau Jawa, karena ekspedisi pertama dan ke-2 dilaksanakan di Kepulauan Seribu, Jakarta. Hingga akhirnya  berkat usaha anggota FDC saat itu ekspedisi ke-3 dapat dilaksanakan di Kepulauan Tukang Besi yang saat ini dikenal dengan Wakatobi, Sulawesi“ ujar Veda Santiaji saat ditanya tentang sejarah ekspedisi yang pernah di ikuti. Acara talkshow berlangsung sangat meriah dikarenakan antusias penonton yang tertarik dengan kegiatan Ekspedisi Zooxanthellae tersebut. Akhir acara talkshow dilakukan dengan pemberian doorprize oleh pihak FDC IPB dan Deep & Extreme serta penyampaian informasi terkait Ekspedisi Zooxanthellae XIV yang akan dilaksanakan pada bulan September 2016 di Pesisir Timur Pulau Kei Besar, Maluku Tenggara. Harapan dari Ekspedisi Zooxanthellae XIV, Pulau Kei Besar dapat lebih dikenal oleh masyarakat indonesia khususnya pada bidang wisata bahari.

 

Teks: Karizma Fahlevy /Doc : FDC IPB 2016/Editor: Tri NS

Share
Categories: Story | Leave a comment