Ayo Dukung Kami

poster dukungan

Ayo dukung anggota FDC dalam MantaWatch Internship Program 2016 yang diadakan oleh Guy’sTrust. Program ini akan dilaksanakan di Pulau Komodo dan mereka akan belajar mengenai monitoring dan upaya konservasi pari Manta (pari terbesar di dunia). Tunggu apa lagi, segera tonton dan like video profil mereka di :

app.mantawatch.com/candidates/34    MIKO

app.mantawatch.com/candidates/40    SARI

 

Jangan lupa untuk share ke teman-teman dan kerabat terdekat ya :)

#SaveMantaRays

Share
Categories: Story | Leave a comment

Sayangi, Lindungi, dan Jaga Satwa Indonesia

Kamis, 2 Juni 2016 dua orang anggota FDC IPB mengikuti diskusi WWF yang bertempat di Pullman Hotel, Jakarta pusat. Diskusi tersebut dihadiri oleh pihak WWF sendiri, KKH-KSE, Kawbid Polri, Polda Bali, MUI, Perhimpunan Dokter Hewan, DPR RI, Garuda Indonesia, KEMENLU, Public figure, KKP dll. Dalam acara ini, diskusi yang dibicarakan adalah tentang perdagangan illegal satwal liar yang dilindungi. Pihak WWf sendiri menjelaskan, “perdagangan satwa liar meerupakan bisnis terbesar ke 5 di duniadengan omset 5 triliun. UUD di Indonesia yang menjelaskan tentang perdagangan satwa liar dibahas didalam UU No. 5 tahun 1990, dalam UU tersebut masih banyak satwa liar yang belum masuk kedalam kategori yang harus dilindungi, maka dari itu harus ada perubahan dalam UU tersebut. Contoh dari perdagangan satwa liar adalah perjual belikan gajah yang dilakukan secara online sehingga siapa saja bisa mengakses dan dengan mudah untuk membelinya. Gajah yang jual akan diambil gadingnya yang digunakan untuk perhiasan, pajangan, dll dan dijual d engan harga Rp 1.000.000 – Rp 20.000.000”.

Menurut pak Haerul Saleh (WWF), “ perdagangan satwa liar adalah suatu kejahatan terhadap satwa. Maraknya perdagangan gading gajah menyebabkan stastus gajah menjadu kritis. Dapat diketahui, kritis adalah golongan stasus hewan dibawah punah, itu artinya jika tidak diatasi, maka gajah di Indonesia akan memiliki stastus punah. 3 harimau disumatera mati setiap harinya. Kebutuhan tubuh hewan, dikonsumsi (ketika masih ada), contohnya seperti gading gajah, gading babi, karena mereka masih mengandalkan dan mempercayai terhadap tubuh satwa tersebut untuk perhiasan, untuk dipajang, sifat gengsi manusia,dll. Harimau sumatera memiliki 9 kasus, gajah memiliki 6 kasus, dan orang utan memiliki 2 kasus”

Dari pihak Dirjen Penegak Hukum memiliki kesulitan dalam perdagangan online. Sebab, ketika ditelusuri sampai lokasi, tidak didapatkan tersangka karena orang yang menjual tersebut memiliki banyak alamat dan dari situs yang dilacak merupakan forwad-an dari banyak situs sehingga untuk mencari sumbernya sangat sulit. Tugas dirjen penegak hokum sendiri yaitu bagaiman menjaga supaya habitat dapat diatasi. Dan menurut dirjen penegak hukum, UU No 5 tahun 1990 menerangkan hukuman yang tertera dalam UU tersebut termasuk ringan, karena pihak yang terjerat kasus perdagangan satwa liar hanya dikenakan hukuman 5 tahun penjara dan denda 10.000.000.

Menurut mba Dwi (WWF), tidak hanya satwa yang didarat yang di perjual belikan. Satwa di laut juga memiliki potensi besar untuk diperjual belikan misalnya penyu, dugong, paus, lumba-lumba, whale shark, dll. Penyu adalah satwa laut yang berpotensi di perjual belikan karena semua bagian tubuh penyu dapat dikonsumsi (telur, daging, sisik, karapas). Tingginya penjualan penyu di karenakan permintaan dari pembeli yang tinggi, harga permintaan yang tinggi (di Bali harga penyu sekarang Rp 5-8 juta).

Pihak KKP menjelaskan, selain penyu baru-baru ini adalah masalah whale shark di ambon. Di ambon, whale shark ditangkap sebanyak 2 ekor dan memiliki panjang tubuh mencapai 5 meter. Hasil tangkapan tersebut akan dikirim ke Cina. Selain whale shark, perdagangan satwa liar terjadi pada Parimanta. Parimanta adalah satwa yang statusnya dilindungi penuh sehingga dilarang untuk ditangkap, dikonsumsi, dan di perjualberlikan. Parimata yang ditangkap, diambil insangnya. Daerah yang masih melakukan perjualbelian Parimanta adalah di Kalmakera. Masyarakat di kalmakera menolak Kepmen dikarenakan Parimanta di daerah sana yang mudah di temui dan masyarakat sudah terbiasa akan kegiatan tersebut, dan tidak memikirkan dampaknya. Hukum tiap daerah berbeda karena pasal dalam pasal yang sama, tetapi pendekatan kepada masyarakat yang berbeda.

Pihak Kawid Polri menjelaskan bahwa otoritas Indonesia adalah tidak dapat menyelesaikan masalah untuk satwa di luar Indonesia. Fenomena transictment adalah pertukaran di perdagangan, contohnya adalah gading gajah yang masuk dari luar negeri akan ditukar dengan gading gadah Indonesia. Kerajinan di Bali dan Jogja adalah daerah konsumen terbesar penjualan karapas penyu. Sehingga Polri memiliki unit khusus untuk menyelesaikan masalah ini dengan cara memberi pelatihan LO kepada Polda untuk menyelesaikan masalah perdagangan satwa liar.

Masalah perdagangan satwa liar ini terjadi juga di Bali. Menurut Polda Bali, kasus ini terjadi karena stasus social masyarakat (gensi) dan banyaknya pelabuhan tikus di Bali yang kosong. Satwa yang dilindungi di Bali seperti bibit lobster, moncong babi, penyu,moncong hiu gergaji, dll. Di Bali daging penyu di masak dan dijual di rumah makan babi guling. Penyu merupakan hewan yang dijadikan simbolis dalam acara adat dan istiadat di Bali, semenjak ada peraturan jika penyu tidak boleh ditangkap, masyarakat (pemuka agama) menggantinya dengan hewan lain, walaupun ada beberapa adat dan istiadat masih menggunakan penyu untuk acara adat dan istiadat yang sakral dan harus menggunakan penyu.

Text : Sari Indriani

Share
Categories: Story | Leave a comment

Forum Penyelam Mahasisawa Indonesia (FoPMI) VII

Derawan – Tanggal 24-30 April 2016, Forum Penyelam Mahasiswa Indonesia (FopMI) kembali mengadakan Jambore ke-7. Jambore merupakan gathering tahunan FoPMI yang kali ini mengeksplorasi surge laut Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. Forum ini dibentuk sebagai wadah apresiasi aktivitas mahasiswa di bidang penyelaman, seluruh universitas di indonesia, dan forum ini bertujuan untuk mengembangkan jaringan penyelam mahasiswa dan publikasi aktivitas agar dapat terpublikasi secara nasional.

Tahun ini giliran club FIN-DC, Universitas Mulawarman, Balikpapan, Kalimantan Timur menajadi tuan rumah Jambore VII Fopmi. Jambore kali ini disertakan dengan kegiatan sebelumnya yaitu Jambore VI FoPMI yang diadakan di Kepuluan Krakatau, Lampung. Fisheries Diving Club (FDC  – IPB) turut serta dalam kegiatan Jambore VII tersebut, ialah Regitri Darmawan (ITK 51) dan Kevina Rizki (ITK 51) yang menjadi delegasi perwakilan FDC. Kegiatan ini diikuti pula oleh rekan-rekan penyelam dari Anemon Diving Club (Anemon DC – Universitas Lampung, Polinela Diving Club (Polinela DC) – Politeknik Negeri Lampung , Marine Diving Club(MDC) & Unit KegiatanSelam (UKSA-387) – Universitas Diponegoro, Gadjah Mada Diving Society (GADISO) & Unyil – Universitas Gadjah Mada, Fisheries Diving Club – Universitas Hassanudin, NAUTIKA – Institut Teknologi Bandung, serta Oseanik  – Univesrsits Padjajaran, serta club-club selam lainnya

Kegiatan diawali dengan acara pembukaan dan pelepasan yang dilakukan di auditorium Universitas Mulawarman yang berlangsung pada 25 April 2016. Kongres diakhiri dengan foto bersama seluruh cub selam di Indonesia, dilanjutkan dengan perjalanan darat menuju Derawan yang memakan waktu kurang lebih 1 hari.

Jambore sendiri dilakukan keesokan harinya (26/4) di Pulau Derawan. Lalu peserta dan panitia ditempatkan di rumah masyarakat sekitar atau sering disebut homestay. Jambore kali ini dimaksudkan sebagai ajang berkumpul, sharing sesame penyelam Indonesia, diskusi mengenai program kerja dan struktur organisasi yang akan mereka jalankan serta fun diving bersama. Fun diving yang dilakukan di Pulau Derawan dan Sangalaki. Selain melakuan fun diving bersama para peserta juga mendapat materi dari Mantawacth, Diver Clean Action, dan pelatihan tentang monitoring penyu di pulau Sangalaki, Kepulauan Derawan.

 

Teks : Regitri Darmawan

Share
Categories: Story | Leave a comment

Pembentukan Komunitas Sahabat Pulau Pari

Kegiatan FGD Pembentukan Komunitas Sahabat Pulau Pari dilaksanakan pada hari Kamis 19 Mei 2016 hingga hari Jumat 20 Mei 2016 di Pulau Pari, Jakarta. Pada kegiatan tersebut anggota FDC yaitu Firsta Kusuma Yudha (FDC.XXXIII.14) turut diundang sebagai salah satu partisipan dalam pembentukan Forum Sahabat Pulau Pari yang diadakan oleh UPT Loka Pengembangan Kompetensi SDM Oseanografi Pulau Pari – LIPI.

1

Pembentuk Komunitas Sahabat Pulau Pari

Kegiatan FGD Pembentukan Komunitas Sahabat Pulau Pari meupakan tindak lanjut dari Forum yang sebelumnya dilaksanakan di Jakarta mengenai pembentukan prosedur dan panduan konsep-konsep panduan aktifitas yang dilakukan relawan dalam komunitas. Secara umum FGD ini bertujuan untuk mendapatkan saran, kritikan, pendapat, dan masukan dari forum, pelaku komunitas, termasuk stakeholder dan masnarakat dari dalam maupun luar pulau terhadap konsep komunitas dan panduan aktivitas yang disusun sebelumnya.

2

Kegiatan aksi bersih pantai yang dilakukan di sekitar Star Beach, Pulau Pari

Peserta FGD ini terdiri dari stakeholder, masyarakat pulau, dan pelaku komunitas bidang penelitian dan lingkungan yang diantaranya adalah UPT LPKSDMO Pulau Pari, Kementrian Kelautan dan Perikanan, Komunitaas Peta Hijau, Fisheries Diving Club, WWF Indonesia, Mapala UI, WANADRI, Himasper IPB, dan Marine Buddies. Peserta kegiatan melakukan forum dalam suatu ruangan yang bertujuan mendapatkan output berupa satu pemahaman dan saling mendukung akan konsep program komunitas sahabat pulau pari, dan keikut sertaan forum, komunitas, stakeholder, dan masyarakat menjadi relawan di komunitas sahabat pulau pari. Peserta diajak untuk lebih mengetahui dan mengenal kondisi sebenarnya Pulau Pari, baik dari sisi lingkungan maupun sosial dan ekonominya.
Hari pertama kegiatan, peserta melakukan forum untuk menampung aspirasi, kritik, dan masukan dari masyarakat terhadap komunitas yang akan dibentuk. Selanjutnya dilakukan orientasi Pulau Pari untuk mengetahui kondisi sebenarnya yang terjadi pada pulau tersebut. Kemudian peserta kegiatan yang berasal dari komunitas bidang penelitian dan lingkungan mengadakan forum khusus untuk membahas masukan dan kritikan dari masyarakat untuk menentukan kegiatan yang tepat untuk dilakukan dalam Komunitas Sahabat Pulau Pari. Hari kedua diadakan aksi bersih pantai yang dilakukan oleh peserta FGD Pembentukan Komunitas Sahabat Pulau Pari. Setelah itu dilakukan orientasi bawah laut sekitar Pulau Pari, kegiata ini dilakukan untuk mengetahui kondisi ekosistem terumbu karang di sektitar pulau yang kemudian akan menjadi salah satu media kegiatan Komunias Sahabat Pulau Pari.
Kegiatan pembentukan Komunitas Sahabat Pulau Pari dicukupkan untuk tahun ini setelah kegiatan FGD tersebut. Selanjutnya akan dilakukan penyusunan modul-modul tata pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan oleh Komunitas Sahabat Pulau Pari. Komunitas Sahabat Pulau Pari itu sendiri baru mulai melakukan pembukaan pendaftaraan relawan pada tahun 2017 mendatang.

Teks: Firsta Kusuma Yudha | Dokumentasi: Tim Pembentuk Komunitas Sahabat Pulau Pari

Share
Categories: Story | Leave a comment

IMG_1443

[Hari Pendidikan Nasional] Setiap tanggal 2 Mei di peringati sebagai hari pendidikan nasional sebagai bentuk penghargaan terhadap Ki Hajar Dewantoro yang telah mempeloporkan pendidikan di Indonesia sejak zaman kolonialisme Belanda. Filosofi yang terkenal dari beliau yakni “Ing Ngarsa sung Tuladha, Ing Madya mangun karsa, Tut Wuri Handayani”. Foto ini diambil pada XPDC Zooxanthellae XIII di Pulau Sabu dimana setiap pagi hari tidak asing bagi kita melihat anak sekolah di Pulau Sabu.Tidak ada bus sekolah apalagi angkot, mereka harus berjalan kaki hingga beberapa kilometer untuk bisa sampai di sekolah. Di tengah keterbatasannya tidak ada raut kecewa dari mereka, yang ada raut semangat dari mereka untuk mencari ilmu. Itulah salah satu potret pendidikan di Indonesia timur.

Share
Categories: Story | Leave a comment

delegasi fopmi 1

Share
Categories: Story | Leave a comment

TALK SHOW “GALI PESONA BAHARI NUSANTARA DALAM EKSPEDISI ZOOXANTHELLAE”

Jakarta, Fisheries Diving Club (FDC IPB) dibentuk oleh mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor pada tanggal 6 Oktober 1987 atas keamaan bakat dan minat dan merupakan club selam tertua berbasis scientific diving di Indonesia. Pentingnya Club selam berbasis scientific di IPB berhubungan dengan kekayaan keanekaragaman hayati laut (marine biodiversity) Indonesia yang belum banyak dieksplor oleh masyarakat Indonesia, khususnya mahasiswa. Mahasiswa memiliki peran aktif dalam mempertahankan eksistensi keanekaragaman hayati laut. Melalui Organisasi Selam berbasis scientific diving, FDC IPB telah melakukan eksplorasi laut di berbagai wilayah Indonesia. Beberapa kegiatan rutin yang dilakukan FDC IPB antara lain pelatihan penyelaman dasar dan penyelaman ilmiah, serta kegiatan monitoring di Kepulauan Seribu. Kegiatan terbesar FDC IPB dilakukan setiap dua tahun sekali, yaitu Ekspedisi Zooxanthellae yang telah dilaksanakan sebanyak 13 kali hingga tahun 2014.

deepextreme2

Antusias peserta talk show di Cendrawasih Hall, JCC

Beberapa capaian telah diperoleh mahasiswa yang bergabung dalam FDC IPB. Melalui hasil yang diperoleh dalam Ekspedisi Zooxanthellae ke-3 berlokasi di Kepulauan Wakatobi (saat itu bernama Pulau Tukang Besi), rekan-rekan mahasiswa FDC dapat membantu memberikan rekomendasi pengelolaan kepada pemerintah setempat. Usaha eksplorasi tersebut mendukung penetapan wilayah tersebut sebagai Taman Nasional Wakatobi pada tahun 1996. Tanggal 31 Maret – 3 April 2016 tepat perayaan 10 tahun acara “Deep and Extreme Indonesia” berlokasi di Hall Cendrawasih, JCC yang merupakan acara Diving, Marine & Adventure terbesar di Indonesia, FDC IPB mengadakan acara talkshow bertajuk Ekspedisi Zooxanthellae dan sejarahnya. Saat acara talkshow tersebut, FDC IPB mengundang 3 alumni FDC sebagai pembicara, yakni Budhi Hascaryo Iskandar (Pendiri & Instruktur FDC IPB), Veda Santiaji (Coral Triangle Support Leader, WWF-ID), dan Imran Amin (Marine Program Director, TNC). Talkshow berlangsung selama satu jam mulai pukul 18:00-19:00 WIB pada hari Sabtu tanggal 02 APril 2016, diawali dengan pemutaran video Ekspedisi Zooxanthellae serta sambutan dan penjelasan singkat tentang FDC IPB oleh bapak Budhi Hascaryo selaku pendiri FDC IPB.
deepextreme3deepextreme1

deepextreme4

Foto bersama anggota FDC, alumni, dan pembicara,

Ekspedisi Zooxanthellae merupakan ekspedisi ilmiah yang bertujuan untuk mengeksplorasi keindahan bawah air, mengenal kehidupan masyarakat pesisir, mengetahui potensi alam yang dapat dikembangkan, menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan pesisir, dan memetakan kawasan di sekitar pesisir daerah tersebut. “Mahasiswa memiliki peran penting dalam hal konservasi khususnya keanekaragaman hayati pesisir, yang menjadi tantangan saat ini adalah luasan terumbu karang di Indonesia masih belum sepenuhnya di eksplorasi sehingga sangat dibutuhkan bantuan serta peran mahasiswa dalam upaya mengekslorasi ekosistem pesisir tersebut“ ujar Imran saat menjelaskan tentang pentingnya peran mahasiswa pada bidang scientific diving. “ Pada tahun 1994 saya dan teman teman FDC saat itu mengupayakan agar ekspedisi ke-3 dapat dilaksanakan diluar Pulau Jawa, karena ekspedisi pertama dan ke-2 dilaksanakan di Kepulauan Seribu, Jakarta. Hingga akhirnya  berkat usaha anggota FDC saat itu ekspedisi ke-3 dapat dilaksanakan di Kepulauan Tukang Besi yang saat ini dikenal dengan Wakatobi, Sulawesi“ ujar Veda Santiaji saat ditanya tentang sejarah ekspedisi yang pernah di ikuti. Acara talkshow berlangsung sangat meriah dikarenakan antusias penonton yang tertarik dengan kegiatan Ekspedisi Zooxanthellae tersebut. Akhir acara talkshow dilakukan dengan pemberian doorprize oleh pihak FDC IPB dan Deep & Extreme serta penyampaian informasi terkait Ekspedisi Zooxanthellae XIV yang akan dilaksanakan pada bulan September 2016 di Pesisir Timur Pulau Kei Besar, Maluku Tenggara. Harapan dari Ekspedisi Zooxanthellae XIV, Pulau Kei Besar dapat lebih dikenal oleh masyarakat indonesia khususnya pada bidang wisata bahari.

 

Teks: Karizma Fahlevy /Doc : FDC IPB 2016/Editor: Tri NS

Share
Categories: Story | Leave a comment

deep and extreme

Share
Categories: Story | Leave a comment

Mengenal Teknik Pembuatan Film Dokumenter dalam Workshop Videography

Bogor, Suatu kegiatan tanpa dokumentasi rasanya kurang memiliki nilai seni, dimana hal tersebut telah menjadi sesuatu yang populer dewasa ini. Film dokumenter merupakan salah satu bentuk dari hasil dokumentasi yang telah dikemas menjadi sebuah film berdurasi pendek. Setiap kegiatan akan lebih dikenang apabila telah didokumentasikan. Pada tanggal 19 Januari 2016 lalu, MSTDS ITK-IPB mengadakan kegiatan berupa pelatihan pembuatan film dokumenter yang dipresentasikan langsung oleh Nanang Sujana, INFIS (Indonesian Nature Film Society) Board and Principal Filmmaker yang juga merupakan salah satu ALB (Anggota Luar biasa) FDC-IPB. INFIS merupakan sebuah organisasi yang bergerak dalam pembuatan film yang berhubungan dengan alam. “Harapannya dari pertemuan kali ini, tumbuh keinginan pada mahasiswa untuk berkarya khususnya dalam pembuatan film dokumenter yang berguna untuk mendokumentasikan setiap kegiatan saat praktikum lapang” ujar Nanang.

CapturePada kegiatan ini, dua orang anggota FDC-IPB yakni Karizma Fahlevy (FDC.XXXII.12) dan Geza (FDC.XXXIII.) turut mengikuti rangkaian pelatihan videography tersebut. Saat pelatihan dipaparkan bagaimana teknik pengambilan gambar yang baik saat mendokumentasikan sesuatu, bagaimana pengaturan cahaya agar memiliki warna yang sesuai dengan emosi penontonnya serta dijelaskan juga jenis-jenis film dokumenter. Sebagai salah satu organisasi ilmiah, FDC-IPB melaksanakan kegitan yang berdasarkan pada konservasi alam khususnya alam bawah air. Kegiatan yang bertujuan untuk mengeksplorasi keindahan alam bawah air (ekosistem pesisir) ini dinamakan Ekspedisi Zooxanthellae, oleh karena itu dibutuhkan kemampuan anggota FDC-IPB khususnya dalam hal dokumentasi dan pembuatan film dokumenter agar masyarakat dan pemerintah dapat menyaksikan keindahan tersebut dan dapat menumbuhkan rasa kepedulian terhadap ekosistem pesisir.

 

Teks : Karizma Fahlevy (FDC.XXXII.12)

Share
Categories: Story | Leave a comment

DATANG DAN SAKSIKAN

IMG_20160303_134614
_____________________________________________________________________

FDC – IPB berkerjasama dengan DEEP & EXTREME INDONESIA

PRESENT
talkshow “Gali Pesona Bahari Nusantara Dalam Ekspedisi Zooxanthellae”
Tanggal : 02 April 2016
Tempat : Cendrawasih Hall, Jakarta Convention Center
Jam : 18.00 – 19.00 WIB


Divisi Hubungan Luar Klub FDC-IPB
twitter : @fdc_ipb
Instagram : @fdc_ipb
Line@ : @iqf0979i
Email : fdc_ipb@yahoo.com
FP : fisheries diving club
Website : http://lk.fdc.ipb.ac
Youtube : FDC IPB

Share
Categories: Story | Leave a comment

Mentor? Starts From Here, “Training of Trainer”

Fisheries Diving Club (FDC) adalah organisasi selam mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB), yang didirikan pada tanggal 6 Oktober 1987 dan berada di bawah organisasi Persatuan Olah Raga Selam Seluruh Indonesia (POSSI). Selama 28 tahun, FDC terus berkembang dan mengukir prestasinya pada beberapa event dan kesempatan yang berbeda. Pencapaian prestasi-prestasi tersebut bisa dikatakan tidak lepas dari proses sistem pendidikan dan pelatihan (Diklat) di FDC IPB.

Divisi Pendidikan dan Latihan (Diklat) dipimpin oleh seorang Kepala Sekolah yang dibantu beberapa pejabat diklat. Divisi Pendidikan dan Latihan berwenang dan bertanggung jawab dalam memberikan pelatihan dan pendidikan selam kepada peserta diklat selam FDC, mengembangkan soft skill anggota FDC, terutama bagi anggota baru FDC (Diklat). Selain itu divisi ini bertanggung jawab dalam peningkatan sertifikasi jenjang lanjutan bagi seluruh anggota FDC.

Terdapat istilah diklat dan mentor pada sistem kediklatan FDC IPB. Diklat merupakan anggota FDC yang termuda dan bersedia mengikuti kegiatan pendidikan dan pelatihan sebagai penyelam standard FDC IPB. Sedangkan mentor merupakan anggota FDC yang telah dinyatakan lulus dan menyelasaikan rangkaian kediklatan.

Mentor diharuskan mengajarkan dan memberikan ilmu, materi, pelatihan, dan praktik kepada diklatnya. Namun sebelum melaksanakan tugasnya dalam mendidik, mentor akan mengikuti training of trainer. Kegiatan ini bersifat wajib bagi anggota yang telah lulus program kediklatan FDC. Training of trainer memberikan wawasan dan pengetahuan untuk dapat memeberikan materi mengenai penyelaman dan non penyelaman. Training of trainer dapat juga dikatakan pemberian materi atau diskusi terkait sikap, perilaku, dan larangan yang perlu diperhatikan dalam memberikan pelatihan dan pendidikan selam kepada peserta diklat.

Kegiatan TOT dibimbing langsung oleh Pak Budhi Hascaryo selaku instruktur FDC-IPB

Kegiatan ToT dibimbing langsung oleh Pak Budhi Hascaryo selaku instruktur FDC-IPB

Alhamdulillah, tahun ini diklat 33 FDC telah menyelesaikan rangkaian kediklatan dan dinyatakan lulus. Pada hari Rabu, 3 Februari 2016 kemarin, diklat 33 telah melaksanakan training of trainer. Pemateri training of trainer sendiri disampaikan oleh pembina sekaligus instruktur kami, yaitu Bapak Dr. Ir. Budi Hascaryo Iskandar, M.Si. Training of trainer dilakukan dengan sederhana di ruang sekretariat 2 FDC. Jumlah mentor yang mengikuti training of trainer ini berjumlah 20 orang.

“Membangkitkan semangat saya sebagai mentor muda”, ujar Fakhry (diklat 33/ITK 51) dan Geza (diklat 33/ITK 51) selaku divisi kediklatan FDC periode ini mengatakan sebelumnya tak disangka ternyata ada tahap seperti ini sebagai mentor FDC.

 

teks: aflaha Abdul Munib / dokumentasi: geza saputra

Share
Categories: Story | 2 Comments

Memahami Kesehatan Penyelaman dalam PAP FDC-IPB

Bogor, FDC-IPB Pada hari minggu tanggal 31 Januari 2016, Diklat XXXIV mengikuti rangkaian kegiatan kediklatan pada jenjang SKIN DIVER yaitu kuliah Pengantar Akademik Penyelaman (PAP) mengenai Kesehatan Penyelaman, pada tanggal 31 Januari 2016 yang bertempat di secretariat 2 FDC-IPB. Tujuan dari PAP ini ialah untuk menambah wawasan para diklat agar menjadi penyelam yang aman dan professional. PAP kali ini dibimbing oleh Aulia Utama (FDC.XXXIII.06) yang juga sebagai penanggung jawab PAP kesehatan penyelaman dan beberapa mentor lainnya yaitu Firsta Kusuma (FDC.XXXIV.14), Muslim (FDC.XXIV.17), Zaqi (FDC.XXXIV.25), Praditio Anggoro (FDC.XXXIV.20) dan Salomo Juliko (FDC.XXXIV.39).

Suasana saat PAP

Suasana saat PAP

PAP ini membahas tentang psikologi dan kondisi umum penyelam tersebut. Dalam penyelaman, psikologi penyelam sangat berpengaruh terhadap keselamatan saat berada di bawah air. Umumnya terdapat dua hal penting yang sangat ditekannkan dalam dunia penyelaman, yaitu psikologis dan kondisi umum. Efek psikologis pada penyelam berhubungan dengan tingkat kecerdasan, kesegaran jasmani, emosional, dan gangguan syaraf. Sedangkan kondisi umum terkait dengan kesehatan umum penyelam. Syarat penyelaman lainya yaitu umur, pekerjaan, obat-obatan, jantung, paru-paru, hidung dan tenggorokan, telinga, mata, dan otak.

Gangguan kejiwaan bagi penyelam diantaranya: 1. Phobic Anxiety, yaitu rasa takut yang tak beralasan; 2. Anxietas, kegelisahan berlebih; 3. Ilusi, yaitu salah tafsir terhadap benda; 4. Blue orb syndrome, yaitu rasa takut akan luasnya dasar laut;5. Claustrophobia, yaitu rasa takut akan ruang tertutup.

1455371064952

Kegiatan tanya jawab saat PAP berlangsung

Saat PAP juga dijelaskan tentang aspek medis pada penyelaman yang berhubungan dengan paru-paru, sinus, telinga, gigi, muka saat turun, dan sistem pencernaan saat naik. Selain itu juga diajarkan mengenai pengaruh gas pada tubuh kita yang disebabkan oleh gas karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), Oksigen, dan Nitrogen. Adapula masalah medis lainnya, yaitu: bleeding, hypothermia, hyperthermia, heart stoppage, dan nyaris tenggelam.

Tentunya kesehatan penyelaman sangat penting dipahami dalam dunia penyelaman. “Terimakasih para mentor semoga di masa yang akan datang ilmu yang sudah dijelaskan oleh para mentor dapat kami terapkan dalam pengaplikasian di dunia nyata.” ujar Farida Rizki (FDC.XXXIV.06).

 

Teks & Dok : Diklat XXXIV

Share
Categories: Story | Leave a comment

Anggota FDC Menelisik Trip Penangakapan Teri di Karimunjawa

 

DSCN1038 -trip branjang

Karimunjawa ‒ dalam kegiatan praktek kerja lapang (PKL) bulan agustus 2015, dua anggota fdc ipb (Intan dan Aflaha diklat 31) bersama dua rekan dari Ilmu dan Teknologi Kelautan (Thomas dan Miftahul ITK 49) berkesempatan untuk pergi melaut bersama nelayan beranjang atau penangkap ikan teri. Tangkapan utamanya memang ikan teri (Hypoatherina sp.) dan beberapa tangkapan sampingan seperti ikan tongkol, ikan lemuru dan cumi-cumi (Loligo sp.). “Ini yang memang ditunggu-tunggu… Pergi melaut!” ujar Aflaha salah satu anggota fdc yang pergi melaut.

Kesempatan ini mereka dapat ketika mereka sedang berbincang-bincang dengan nelayan setempat dan langsung saja diajak oleh kapten kapal. Sekilas info, biasanya dalam satu kapal beranjang terdiri dari 5 orang nelayan dan termasuk 1 orang kapten kapal didalamnya. Kalau dilihat-lihat, kapal beranjang ini berjumlah kurang lebih 6 buah kapal yang dapat ditemukan di tempat sandaran kapal pelabuhan perikanan Karimunjawa.

1

Kami berangkat dari jam 5 sore atau menjelang maghrib hingga pukul 1 dini hari. Nelayan teri merupakan salah satu nelayan yang memanfaatkan cahaya dalam menarik perhatian ikan teri untuk ditangkap sehingga operasi penangkapan dilakukan malam hari.

Angin kencang nan dingin ialah kondisi yang kami rasakan hingga kepulangan. Padahal tiga orang nelayan yang menemani kami berusia sekitar 70 tahun. Mereka masih sangat bugar untuk pergi melaut, masih cakap dalam mengoperasikan alat tangkap, mereka pun masih tangguh untuk menangkat jangkar kapal. Bisa dibilang mereka adalah veteran dalam dunia penangkapan ikan karena mereka sendiri telah menjadi nelayan sejak kapal masih menggunakan tenaga angin untuk berlayar.

Nenek moyangku seorang pelaut ternyata bukan sekedar kalimat biasa saja, ternaya itu nyata adanya. Banyak canda, tawa, ilmu dan materi yang mereka berikan selama kami pergi melaut bersama mereka. Sungguh pengalaman yang sangat baik bagi kami.

Teks : Aflaha Abdul Munib / dok : Tim PKL Karimunjawa

Share
Categories: Story | Leave a comment

Mutiara Nan Indah di Tanah Rempah

Indonesia negeri yang kaya, berjuta pesona dan keindahan alam berada didalamnya. Mulai dari daratan hingga lautan, tersimpan jutaan mutiara nan indah didalamnya. Tak hayal kita menjadi pusat perhatian oleh beberapa negara di seluruh dunia. Berabad-abad lamanya kita dijajah oleh bangsa-bangsa yang lebih besar dari kita, hanya untuk mendapatkan hasil bumi yang melimpah di negeri kita. Salah satunya berada di provinsi Maluku tepatnya berada di daerah Kepulauan Banda, Maluku Tengah.

Pelabuhan Banda Naira, pintu masuk jalur pelayaran

Pelabuhan Banda Naira, pintu masuk jalur pelayaran

Kepulauan Banda terdiri dari 10 pulau, yaitu pulau Naira, Banda Besar, Hatta, Gunung Api, Syahrir (Pulau Pisang), Rhun, Ai, Karaka, Nailaka, dan Manukang. Tiap-tiap pulau memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri yang harus dikunjungi, mulai dari eksotisme bawah laut yang berkilau seperti mutiara, gunung api yang menyuguhkan pemandangan fantastis, wisata kota sejarah adat dan kolonial yang agung serta mistis, sampai sejarah nasional tentang pengasingan tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan. Semua dapat ditemukan di Kepulauan Banda. Tak hanya itu, kantor VOC di daerah Hindia Belanda pertama kali didirikan di Banda Naira, bahkan pulau Rhun juga pernah diklaim oleh ratu Inggris pada tahun 1602 sebagai bagian dari kerajaan Inggris.

Keagungan dan keunikan kisah sejarah kepulauan Banda tersebut tak lain berasal dari kualitas rempah-rempah yang terbaik di nusantara, yaitu komoditi pala yang unggul. Tak heran Pulau Banda Naira sangat kaya akan sejarah, mulai dari tempat pusat perdagangan rempah-rempah, seperti pala, cengkeh, dan kayu manis. Hasil bumi inilah yang menjadi incaran bangsa-bangsa Eropa, seperti Portugis, Inggris hingga Belanda yang ingin menguasai Indonesia. Serta banyak ditemukan bangunan bersejarah yang membuat pulau ini memiliki nuansa seperti kota tua.

Cengkeh (atas), kayu manis (kiri bawah), dan biji pala (kanan bawah) merupakan hasil rempah-rempah di Pulau Banda

Cengkeh (atas), kayu manis (kiri bawah), dan biji pala (kanan bawah) merupakan hasil rempah-rempah di Pulau Banda

Keagungan dan keindahan Kepulauan Banda tidak hanya di daratan saja. Lautan Banda pun menyimpan jutaan pesona mutiara nan indah yang tergabung di dalam satu ekosistem terumbu karang, mulai dari komunitas karang yang sangat baik, penuh warna dan beragam, ikan terumbu yang menyuguhkan atraksi fantastis dan kelincahannya, serta makrobenthos si kecil yang selalu terlihat fotogenik dan menawan.

Tak hanya itu, terdapat sekitar 22 titik penyelaman yang siap untuk diselami oleh para pengunjung yang ingin berwisata di Kepulauan Banda. Bahkan terdapat tiga tipe terumbu karang yang ditemukan, ialah tipe slope (miring), flat (datar), dan wall (dinding). Kondisi perairan yang cukup tenang, ekosistem terumbu karang yang beragam dan merupakan jalur lalu lintas mamalia laut besar menjadikan Kepulauan Banda salah satu destinasi wisata bawah air yang paling menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.

Akses, Infrastuktur dan Masyarakat

Akses menuju pulau Banda Naira dapat ditempuh menggunakan jalur udara dan laut. Perjalanan menggunakan pesawat dari Jakarta – Ambon berkisar antara 3 sampai 4 juta rupiah dengan memakan waktu sekitar 4 jam. Setelah itu, perjalanan dari Ambon – Banda Naira dapat ditempuh dengan jalur laut selama kurang lebih 6 jam menggunakan kapal cepat Express Bahari 2B yang beroperasi dua kali seminggu dari Tulehu – Banda dan Banda – Tulehu dengan harga 410 ribu kelas ekonomi, 510 ribu kelas eksekutif, dan 650 ribu kelas VIP.

Perlu diketahui jalur laut menjadi moda transportasi yang utama bagi masyarakat di pulau tersebut. Walapun sudah dibangun bandara untuk pesawat perintis, hanya terdapat satu pelabuhan yang digunakan untuk bersandar kapal-kapal besar menuju pulau Banda, yaitu Pelabuhan Banda Naira. Selain melalui jalur laut, bisa juga melalui jalur udara, namun tidak ada jadwal dan maskapai penerbangan yang pasti.

Menyelami keindahan bawah laut Banda Naira

Menyelami keindahan bawah laut Banda Naira

Pesona bawah laut Banda Naira

Pesona bawah laut Banda Naira

Masyarakat kepulauan Banda mayoritas beragama Islam, sangat sedikit warga yang beragama non-muslim. Serta masyarakat Banda terdiri dari beberapa etnis, seperti etnis Jawa, etnis Cina, etnis Ambon, Bugis, dll. Namun keragaman dan perbedaan tersebut tak lantas menyurutkan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. Masyarakat kepulauan Banda sangatlah ramah kepada wisatawan lokal maupun mancanegara. Kehidupan sosial ekonomi masyarakatnya pun beragam, mulai dari nelayan, penyedia jasa wisata dan penginapan, pedagang, dan petani seperti pala, cengkeh dan kayu manis. Hal ini lah yang membuat pulau Banda menjadi primadona bagi wisatawan lokal dan mancanegara.

Bersama anak-anak Banda Naira di depan Benteng Belgica

Terimakasih Pulau Banda yang telah menyambut dan menerima ku dengan penuh kehangatan, keceriaan, dan keindahan alamnya. Semoga kelak dirimu tak menjadi sebuah legenda, yang keindahan alamnya hanya dapat di nikmati bak sebuah dongeng pengantar tidur saja. Semoga kita bertemu kembali dilain waktu dan kesempatan.

 

 

 

 

 

 

Oktober 2015 from Banda with love

(text : Praditio Anggoro / Dokumentasi : Praditio Anggoro)

Share
Categories: Story | 2 Comments

Never Ending Story • Pengalaman Baru Bawah Air Bersama FDC-IPB

http://karizmafahlevy.tumblr.com/post/136538465180/pengalaman-baru-bawah-air-bersama-fdc-ipb

Pengalaman Baru Bawah Air Bersama FDC-IPB

Share
Categories: Reblog, Uncategorized | Leave a comment