Bersahabat dengan Masyarakat Pesisir

IMG-20170501-WA0032JAKARTA- Menjadi sahabat warga pesisir sangatlah menyenangkan. Seperti yang dilakukan oleh Karizma Fahlevy (FDC.XXXII.12) dan Firsta Kusuma Yudha (FDC.XXXII.14). Masyarakat pesisir merupakan kelompok orang yang tinggal di daerah pesisir laut. Sebagian besar sumber mata pencaharian berasal dari hasil pemanfaatan sumberdaya pesisir tersebut. Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki luas laut lebih besar dibandingkan dengan daratan. Begitu banyaknya Pulau-Pulau yang terdapat di Indonesia dan Pulau Pari merupakan salah satunya, sebuah pulau kecil yang berada di utara teluk Jakarta. Banyaknya polusi yang datang dari 13 sungai yang bermuara di Teluk Jakarta, memberikan tekanan bagi ekosistem pesisir di Pulau Pari. Hal tersebut memberikan dampak bagi perekonomian warga pesisir Pulau Pari. Sampah, merupakan salah satu masalah yang terdapat di Pulau Pari.

IMG_20170501_090651Masyarakat pesisir Pulau Pari yang sebagian besar mata pencahariannya dari kegiatan wisata bahari merasakan dampak akibat banyaknya sampah yang terdapat di Pulau Pari, baik sampah lokal atau pun dari daratan (Jakarta). Sampah tersebut memberikan dampak negatif terhadap lingkungan peisisir termasuk ekosistem di sekitarnya. Beberapa ekosistem pesisir di Pulau Pari adalah ekosistem Lamun, Mangrove, dan ekosistem terumbu karang. Ekosistem tersebut memberikan kontribusi terhadap perekonomian masyarakat pesisir. Tidak dapat dipungkiri, sangat penting pengetahuan tentang ekosistem pesisir untuk masyarakat Pulau Pari. Loka pengembangan kompetensi SDM Oseanografi yang merupakan bagian dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) membentuk suatu komunitas untuk memberikan dan mengajarakan masyarakat pesisir tentang pengetahuan terhadap ekosistem pesisir, yang di namakan Asosiasi Sahabat Pari.

IMG_20170501_091426Sahabat Pari merupakan kumpulan dari organisasi pecinta alam seperti Wanadri, FDC IPB, Mapala UI, Sigma B UI, Pramuka Sahabat Satwa, dan masyarakat pecinta alam lainnya. Pembentukan di awali dengan pelatihan dasar tentang dinamika laut, lamun, terumbu karang, dan mamalia laut (30/04/2017). Setelah melakukan pelatihan, kegiatan dilanjutkan dengan pemberian materi berupa kelas terbuka kepada anak sekolah dasar dari kelas 3-6 SD Negeri 1 atap Pulau Pari (1/5/2017). Upaya pemberian materi tentang ekosistem pesisir dan masalah tentang sampah memang diutamakan untuk generasi muda seperti anak anak di sekolah dasar. Harapan dari di bentuknya Sahabat Pari adalah dapat terwujudnya kesejahteraan masyarakat pesisir dengan menjaga keseimbangan ekosistem yan terdapat di Pulau Pari. Kegiatan di tutup dengan evaluasi serta bersih bersih pantai Pasir Perawan bersama dengan anak anak sekolah dasar tersebut.

#Waspada Dira Anuraga

Teks : Karizma Fahlevy (FDC.XXXII.12)

Share
Categories: Story | Leave a comment

Pelatihan Software PRIMER-E

Data menjadi sebuah hal yang penting dan berguna jika diIMG-20170423-WA0001sajikan sebagai informasi yang dapat dimengerti. Data dapat dijadikan sebagi sesuatu yang infromatif sebelumnya sudah diolah dan dianalisis terlebih dahulu, karena itu kemampuan mengolah dan menganilisi data merupakan hal yang sangat penting. Selain itu,  kemampuan ini seharusnya dimiliki oleh seorang scientific diver. Hal tersebut yang melatarbelakangi Divisi Penelitian dan Pengembangan (Litbang) FDC mengadakan sebuah pelatihan analisis data dari software PRIMER-E-E. Pelatihan ini telah berlangsung pada tanggal 22 April 2017 yang bertempat di sekret 2 FDC IPB. Instruktur pada pelatihan ini ialah bang Irfan Yulianto (Wildlife Conservation Society) yang juga merupakan anggota luar biasa FDC dari diklat 14.

Pelatihan software PRIMER-E merupakan sebuah pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pengurus sekaligus mentor aktif FDC dalam bidang keilmiahan yaitu mengolah dan menganalisis suatu data dengan menggunakan software PRIMER-E-E. Software ini merupakan salah satu software untuk mengolah data yang memiliki kemampuan untuk “pre-treatment” atau memanipulasi sebuah kumpulan data yang relatif besar. Materi pokok analisis data dengan software PRIMER-E ini ialah analisis SIMPER, CLUSTER, MDS dan ANOSIM. Keempat analisis tersebut saling berhubungan dari mulai mereduksi sebuah data, memanipulasi data, menampilkan data dalam sebuah endogram, hingga dapat mengetahui hubungan signifikan atau tidaknya parameter yang ada.

DSC_0001Anggota yang mengikuti pelatihan ini cukup antusias, hal tersebut ditandai dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan kepada bang Irfan. Dalam pelatihan ini bang irfan pun sempat menyampaikan bahwa suatu data dianggap benar jika memiliki nilai eror yang kecil. Pernyataan tersebut cukup ampuh dan menjawab beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh peserta. Pelatihan ini ditutup dengan foto bersama anggota dengan instruktur, bang Irfan. Luaran atau output dari pelatihan ini ialah berupa sebuah interpretasi data yang telah diolah dan dianalisis mengunakan software PRIMER-E. Selain itu, besar harapan penyelenggara pelatihan ini ialah meningkatkan semangat anggota FDC untuk belajar menyajikan data sebagi seuatu yang informatif dan berguna bagi banyak orang.

WASPADA DIRA ANURAGA

Text by : Siti Khodijah

Share
Categories: Story | Leave a comment

Coral Finder Training

Instruktur pelatihan, Bang Rizya (The Nature Conservacy) sedang menjelaskan anatomi karang keras. copyFisheries Diving Club (FDC IPB) adalah organisasi selam yang berada pada Fakutas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB yang berlatar belakang keilmiahan. FDC IPB sebagai Scientific DivingClub pertama di Indonesia sudah sepatutnya menjadi kiblat bagi organisasi selam lain ataupun organisasi mahasiswa yang terjun dalam bidang penyelaman ilmiah. Hal tersebut yang melatar belakangi FDC IPB mengadakan “Coral Finder Training”  pada tanggal 15-16 April 2017 lalu. Pelatihan penggunaan Coral Finder ini dilak  sanakan di Ruang Serba Guna Departemen Ilmu Teknologi Kelautan FPIK IPB.

Antusias salah satu peserta saat pelatihan berlangsung.Coral Finder Training merupakan pelatihan identifikasi karang sampai tingkat genera dengan bantuan alat berupa Coral Finder. “Coral Finder ini merupakan salah satu toolkit yang dapat digunakan untuk mengenal identifikasi karang sampai level genera” penjelasan Bang Begin sebagai salah satu instruktur pelatihan. Pelatihan yang dilaksanakan dua hari tersebut dipandu oleh Beginer Subhan (Dosen Ilmu Teknologi Kelautan FPIK IPB) dan Rizya Ardiwijaya (The Nature Conservacy) yang juga merupakan anggota luar biasa FDC. Coral Finder Training tersebut diikuti oleh 42 peserta yang merupakan perwakilan mahasiswa FPIK dari tingkat sarjana, dan perwakilan dari pascasarjana yaitu prodi SPL dan TPL Institu Pertanian Bogor. Pelatihan ini juga diikuti oleh mahasiswa Universitas Bengkulu, Universitas Padjajaran, dan Universitas Dipongoro, juga dari Universitas Negeri Jakarta.

Foto bersama seluruh peserta bersama intruktur Coral Finder Training.Peserta Coral Finder Training diajarkan banyak tentang identifikasi karang. Mulai dari dasar-dasar pengenalan karang, bentuk dan anatomi karang, jenis-jenis karang berdasarkan bentuk koralit, hingga dapat membedakan jenis karang hingga tingkat genera. “Harapan saya dengan pelatihan ini, akan lebih banyak lagi teman-teman dari mahasiswa yang bisa mengidentifikasi karang hingga level genera karang, karena pengetahuan tentang genera karang ini sangat dibutuhkan oleh pengelolaan kawasan konservasi terumbu karang” ujar Bang Rizya sebagai salat satu instruktur Coral Finder Training. Apresiasi dan pandangan positif terhadap pelatihan pun terlihat pada kesan dan pesan dari Rukini mahasiswa Ilmu Kelautan Universitas Bengkulu yang menyampaikan bahwa pelatihan seperti ini merupakan hal baru dan sangat berkesan dan memberikan banyak ilmu baginya, dan Rukini mengharapkan pelatihan serupa bisa diadakan di daerah-daerah seperti di Bengkulu.

WASPADA DIRA ANURAGA

Text by : Firsta Kusuma Yudha

Share
Categories: Story | Leave a comment

Jambore Selam FOPMI (“Syukuran” Anak Muda Pecinta Olahraga “Ekstrim”)

FOPMI ke-VIII AMBON 

(Pesona Seribu Pulau)

2“Ambon” sebuah pulau kecil yang terletak di bagian Barat Daya Pulau Maluku dengan keelokan dan keindahan alam yang mempesona, serta menarik minat para mengunjung karena keindahan yang ditawarkan. Keindahan bahari dengan sumberdaya hayati yang masih terjaga secara alami menjadikan pulau ini sebagai salah satu destinasi wisata kelautan yang sangat disegani. Hal inilah yang  membuat  jambore selam mahasiswa atau yang lebih dikenal FoPMI (Forum Penyelam Mahasiswa Indonesia) menjadikan Ambon sebagai tempat berlangsungnya “syukuran” anak muda pencinta olahraga ekstrem ini.

Tepatnya pada bulan April 2017 di selenggarakan FoPMI ke-VIII kegiatan yang rutin dilakukan setiap tahun dan telah berlangsung selama delapan tahun. Diselenggarakannya FoPMI ke-VIII di Ambon bukan sesuatu yang tidak disengaja namun berdasarkan pemikiran para anggota FoPMI berdasarkan hasil musyawarah. Begitu juga dengan Klub selam FDC-IPB (Fisheries Diving Club Institut Pertanian Bogor), keikutsertaan FDC dalam berjalannya FoPMI ke-VIII ini diwakili oleh dua orang anggota biasa FDC yakni Eko Cahyo Hutomo Zudah (C24130010/FDC.XXXIII.12) dan Muhammad Zaqi (C24130085/FCD.XXXIII.23) dari diklat 33 FDC-IPB. Selain ikut serta dalam melancarkan acara FoPMI ke-VIII, kedua orang anggota FDC ini memiliki tujuan untuk belajar dan mendapatkan pengalaman sebagai bahan sharing ilmu kepada anggota biasa FDC yang lainnya.

3Forum Penyelam Mahasiswa Indonesia kali ini berlangsung selama 8 hari dari tanggal 2-8 April 2017 dengan PADIS (Pattimura Diving Society) Universitas Pattimura, Ambon sebagai tuan rumah kegiatan. BP3 (Balai Pendidikan dan Pelatihan Perikanan) menjadi basecamp bagi para peserta kegiatan ini. Kegiatan FoPMI ke-VIII terdiri dari beberapa acara inti diantaranya penyelaman dan kongres ke-III FoPMI, penyelaman dilaksanakan dibeberapa spot penyelaman yang masing-masing memiliki point berbeda diantaranya di Desa Tulehu (Hot Spring), penyelaman ini dilaksanakan di wilayah bekas gunung vulkanik bawah air dimana substrat nya secara terus menerus mengeluarkan gelembung dan suhu panas pada substrat dasar perairan.

Kemudian pada titik penyelaman kedua di desa Hukurilla yeng letaknya berhadapan langsung dengan Laut Banda4 spot ini menyajikan keunikan gua bawah air (Cave Dive), selanjutnya spot ketiga di desa Mayame yang letaknya di Teluk Ambon dimana spot ini para diver mendapatkan pemandangan kapal karam (wreck dive), dan menurut sejarah kapal tersebut merupakan kapal kargo bekas pemerintah Negara Amerika U.S.S Aquila, dan spot terakhir berada di desa Morella di spot ini menyajikan keindahan hamparan terumbu karang dengan tubir flat dan wall serta ikan-ikan karang dengan warna yang beragam menambah keindahan panorama bawah laut yang alami dan eksotis, setelah itu dilanjutkan kunjungan ke Benteng Amsterdam bekas kolonialisme Belanda. Untuk agenda ke dua dilaksanakannya kongres II FoPMI selama satu hari untuk meninjau AD-ART kepengurusan FoPMI dan pemilihan ketua baru pada kongres ini didapatkan hasil revisian beberapa point dan pasal yang ada pada AD-ART,  terpilihnya ketua baru FoPMI yaitu saudara Sangadji dari club selam PADIS UNPATTI, dan kota Ternate segai tuan rumah FoPMI ke-IX.

1Acara berakhir pada tanggal 8 April 2017 dengan penutupan oleh ketua FoPMI yang baru dan pelepasan Anggota FoPMI ke wilayahnya masing masing. “Sebagai tuan rumah FoPMI ke-VIII Pulau Ambon menyajikan kenangan dan cerita yang begitu banyak pelajaran bahwa alam Indonesia itu indah dan patut di jaga dan kita sebagai penyelam merupakan aktor terdepan dalam pelestarian lingkungan bahari“ ujar Eko Zudah.

WASPADA DIRA ANURAGA

By : Eko Cahyo Hutomo Zudah

Share
Categories: Story | Leave a comment

Solusi Pasti Anak FDC !!! Menyelam Tanpa Perlu Punya Alat Selam ???

Do You Want To Rent Dive Equipment ???

[Divisi Peralatan FDC-IPB] Present

Poster Sewa Alat

Untuk kamu yang belum tahu dan bingung ingin sewa peralatan selam dimana

Come to us, dengan harga terjangkau, cocok untuk semua KALANGAN

More Info, Please Contact

Eko Zudah : 08571535061

Share
Categories: Story | Leave a comment

Gili Shark Conservation Internship Program

Hiu karang merupakan salah satu predator dalam ekosistem nya. Biota ini membantu menyeimbangkan dan menjaga kesehatan biota dalam ekosistem tersebut dengan cara memakan ikan yang lemah/ sakit. Namun, keberadaan hiu karang kini semakin berkurang dengan maraknya dilakukan penangkapan hiu terutama untuk memanfaatkan sirip nya.

Bulan Februari kemarin, Kevina (FDC 33) mengikuti program internship di Gili Shark Conservation Project di Gili Air, Lombok Utara selama dua minggu. Gili Shark Conservation Project merupakan organisasi yang di bentuk oleh Rose Huizenga (director/project manager) yang bergerak di bidang konservasi laut, terutama hiu karang. Project ini terdiri dari pengamatan yang dilakukan di beberapa titik di sekitar Pulau tiga Gili yaitu Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan. Pengamatan dilakukan terhadap hiu karang menggunakan metode BRUV (Baited Remote Underwater Video) yaitu dengan meletakkan alat yg sudah dilengkapi kamera dan umpan ikan, di titik pengamatan, pada kedalaman 6-10 m. Pengamatan hiu karang dengan metode ini di dukung dengan survey dive dengan melakukan pendataan ikan benthopelagic dan ikan elasmobranchii.

gili shark

Selain hiu karang, pengamatan juga dilakukan untuk penyu yang ditemukan saat penyelaman. Pendataan penyu ini sendiri dibuat database nya dengan mengenali fingerprint penyu tersebut (pola di sisi wajah nya) menggunakan software I3S. Penyelaman dan pengamatan BRUV dilakukan setiap hari nya, 5 hari dalam seminggu. Input data dilakukan tiap sore hari setelah selesai penyelaman.

Tidak hanya itu, Projek ini turut melibatkan semua dive center di sekitar Pulau Gili Air dengan meng edukasi para dive instructor cara mendata hiu karang, agar mereka bisa membantu dalam pendataan hiu karang di sekitar Tiga Gili. Gili Shark Conservation Project berafiliasi dengan Shark Base International dan Gili Eco Trust. Projek ini sendiri bertujuan untuk mempromosikan dibentuknya Gili Matra Marine Park, serta pengelolaan kawasan konservasi laut dan MPA (Marine Protected Area) yang lebih baik kedepannya.

Dengan mengikuti program ini, saya banyak mendapat pengalaman baru. Saya belajar metode pengambilan data hiu karang, pengetahuan- pengetahuan baru tentang hiu, serta pengalaman menyelam yang sangat menantang dan menyenangkan.

By: Kevina Rizkikamila

Share
Categories: Story | Leave a comment

Reguler FDC IPB 2017

DCIM100GOPROGOPR1999.(24/02) Olahraga selam merupakan olahraga paling berbahaya di dunia, namun pada saat ini selam merupakan salah satu olahraga yang paling diminati berbagai kalangan. Dalam rangka memfasilitasi minat tersebut, Fisheries Diving Club (FDC-IPB)  mengadakan program sertifikasi bagi kalangan umum. Kegiatan ini bertujuan untuk melatih dan membagi ilmu tentang penyelaman, sehingga penyelaman dapat lebih aman dan menyenangkan

Pada bulan FebruIMG_0631ari 2017, FDC-IPB mengadakan program sertifikasi yaitu Reguler FDC dengan jumlah peserta 12 orang. Program ini terbagi atas 3 rangkaian sebagai syarat untuk sertikasi selam POSSI-CMAS jenjan A1 ( Open Water ) yaitu pengantar akademik penyelaman (PAP), Latihan keterampilan kolam (LKK), dan Latihan Perairan Terbuka (LPT)

Kegiatan LPT dilaksanakan di Pulau Pramuka dan sekitarnya , Kepulauan Seribu, Jakarta. Kegiatan ini dirancang oleh Varrenco Josye (FDC.XXXI.26) dan Boy M Kennedy (FDC.XXXI.5) Sebagai  Dive Master sertifikasi reguler 2017. Penyelaman dilakukan di Dermaga 1 dan Dermaga 2 Pulau Pramuka, Pulau Air dan Pulang Panggang. Peserta sangat antusias dalam mengikuti kegiatan LPT ini dan menjelajahi indahnya bawah laut di Kepulauan Seribu.IMG_9752 copy

Setiap malam usai kegiatan, selalu dilakukan kegiatan briefing serta evaluasi antara peserta dan panitia guna memperbaiki kesalahan, baik saat penyelaman atau kegiatan. Malam terakhir LPT diakhir dengan menikmati hidangan BBQ yaitu cumi dan ikan segar bakar dengan racikan bumbu yang menggugah selera. Rangkaian LPT selama tiga hari dua malam berjalan dengan lancar meskipun diguyur hujan pada malam terakhir. Terlihat hubungan yang baik antara panitia, mentor dan peserta reguler FDC-IPB meskipun dari latar belakang yang berbeda.

“Sangat menyenangkan, soalnya diving pertama kali dan serasa liburan”, ucap salah satu peserta Reguler 2017. Regitri Darmawan (FDC.XXXIII.32) sebagai ketua pelaksana Reguler FDC 2017 mengatakan “kegiatan ini mencerminkan bahwa semua orang dapat menyelam, semoga kegiatan ini terus berjalan dan lebih baik kedepannya”.

Share
Categories: Story | Leave a comment

Biota Laut Ada Yang Berbahaya ???

BIOTA BAHAYA NEW
 70% permukaan bumi dilapisi oleh lautan, dan sisanya adalah daratan. Di daratan sendiri terdapat beragam biota yang menarik perhatian karena keindahan dan keunikan yang dimiliki masing-masing biota tersebut. Faktanya 50-80% biota yang ada di planet bumi tersebar di antara luasnya lautan yang baru bisa dijelajahi oleh manusia kurang dari 5% dari seluruh lautan di bumi ini. Bayangkan jika di daratan yang hanya 30% dari luas permukaan bumi ini terdapat berbagai macam biota yang beragam jenis dan bentuknya itu, bagaimana dengan biota di lautan yang luas? Tentu masih sangat banyak biota yang lebih indah dan menakjubkan yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Namun diantara banyak dan beragamnya biota laut tersebut, terdapat pula beragam jenis biota laut berbahaya yang dapat membahayakan manusia karena gigitannya maupun bisa/racun yang dimiliki biota tersebut. Dan diantara banyaknya biota berbahaya di lautan, beberapa diantaranya sudah teridentifikasi antara lain jenis biota berbahaya yang menggigit antara lain :

1. Hiu , merupakan ikan dengan kerangka tulang rawan dan tubuh yang ramping. Mampu berenang dengan kecepatan maksimal 50km/h. Usahakan jauhi ikan ini ketika menyelam ataupun berada di laut karena ikan ini merupakan hewan yang agresif dan peka terhadap rangsangan.

2. Barracuda , salah satu jenis ikan pelagis ini memiliki tubuh ramping dan gigi yang tajam. Jangan bawa benda yang dapat memantulkan cahaya agar tidak menarik perhatian biota agresif ini.

3. Moray , salah satu jenis ikan ini hidup di celah-celah karang yang pada dasarnya bukanlah hewan yang agresif. Tetapi jangan lakukan gerakan tiba-tiba ketika berada di dekat hewan ini.

Sedangkan jenis biota berbahaya yang beracun/berbisa antara lain :

1. Lionfish , di Indonesia dikenal sebagai ikan lepu ini biasa hidup di terumbu karang. Racun ikan ini terletak pada ujung-ujung sirip dorsal dari ikan ini. Walaupun beracun, ikan ini bukanlah jenis ikan yang agresif. Namun, usahakan jangan menyentuh ikan ini ketika menyelam.

2. Ikan Pari, biasa hidup di dasar perairan laut yang berpasir. Racun ikan Pari terletak di ujung ekor yang berduri dan duri akan tertinggal di tubuh korbannya ketika tertusuk dan dapat menyebabkan rasa nyeri. Usahakan jangan mengganggu ikan ini ketika bertemu di bawah laut.

3. Ular Laut, pada dasarnya bukanlah biota yang agresif dan memiliki mulut yang kecil, namun kekuatan bisa ular ini 60 kali lebih kuat dari bisa ular kobra.

4. Blue Ring Octopus, salah satu jenis gurita ini memiliki corak cincin berwarna biru di sekujur tubuhnya dan memiliki tubuh yang mungil. Namun, karena tubuh mungilnya sehingga gigitan beracun dari biota ini tidak akan terasa oleh korban. Racun ini dapat menyebabkan sistim pernafasan terganggu hingga menyebabkan kematian bila tidak segera ditangani.

5. Karang Api, jenis karang ini memiliki rambut-rambut halus yang dapat menyebabkan rasa seperti terbakar jika tersentuh oleh kulit.

6. Ikan Buntal, racun ikan ini terdapat pada hati, telur, dan saluran pencernaan ikan buntal. Ikan ini dapat dikonsumsi dengan dibuang dahulu bagian-bagian yang mengandung racun tersebut.

By : Diklat 35 FDC-IPB

Share
Categories: Story | Leave a comment

Seminar dan Launching Simulasi Diklat 34

IMG_8677 copy

Presentasi hasil dari diklat XXXIV

Rabu, 18 Januari 2017 adalah hari bersejarah bagi diklat XXXIV Fisheries Diving Club IPB karena telah menyelenggarakan Seminar dan Launching Hasil CORALATION V (Coral Reef Ecosystem Monitoring Simulation V). Acara ini merupakan presentasi hasil dari kegiatan monitoring terumbu karang yang dilaksanakan di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta oleh tim diklat XXXIV pada tanggal 28 November 2016 – 18 Desember 2016. Acara yang dilaksanakan di Ruang Diskusi Fakultas 1 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB ini dimulai pada pukul 19.30 WIB yang dihadiri oleh anggota FDC dan tamu undangan yang bersedia menyempatkan waktunya untuk hadir. Seminar dan Launching Hasil CORALATION V ini  dipandu oleh Firsta Kusuma sebagai moderator serta Exist Saraswati, Farida Rizki, Idham Akbar, M. Ichsan, Nadya Jeny, Prasari Riski, Ridha Fathihatunnisa, Siti Khodijah, dan Sunedi sebagai presentator.

IMG_8800 copy

Diklat XXXIVfoto bersama para mentor dari diklat XXXII dan XXXIII

Acara ini dibuka dengan sambutan dari ketua FDC, Ahmad Eko Suprianto dan dilanjutkan dengan presentasi pemaparan hasil CORALATION V oleh diklat XXXIV. Presentasi terdiri dari pendahuluan, hasil dan pembahasan fisika kimia perairan, terubu karang, ikan terumbu, dan makrobenthos, serta kondisi sosial ekonomi masyarakat Pulau Pramuka dan sekitarnya. Selanjutnya dibuka sesi tanya jawaboleh 4 orang penanya yang kemudian dijawab oleh diklat XXXIV secara bergantian. Setelah sesi tanya jawab selesai, dilanjutkan dengan launching output dari CORALATION V yaitu laporan ilmiah, laporan populer, video dukumenter dan perjalanan diklat, serta infografis dari masing-masing spesialisasi (terumbu karang, ikan terumbu dan makrobenthos). Kemudian acara dilanjutkan dengan pemberian kenang-kenangan oleh diklat XXXIV yang diwakilkan oleh Sunedi kepada Kepala Sekolah diklat XXXIV, Wedi Andika sekaligus menjadi penutup dari acara Seminar dan Launching Hasil CORALATION V. Setelah acara selesai tidak lupa anggota diklat XXXIV berfoto bersama dengan para mentor yang telah membimbingnya hingga sampai terselenggaranya Seminar dan Launching Hasil CORALATION V ini.

IMG_8735 copy

pemberian kenang-kenangan dari diklat XXXIV untuk kepala sekolah, Wedi Andika

Teks: Prasari Riski

Dokumentasi: FDC IPB

Share
Categories: Story | Leave a comment

CORALATION V

pengambilan-data-2

Pengamatan kondisi terumbu karang di perairan Pulau Pramuka

CORALATION V (Coral Reef Ecosystem Monitoring Simulation V) merupakan kegiatan tahunan yang dilakukan Fisheries Diving Club IPB. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan skill penyelaman dan pengambilan data ekosistem terumbu karang, terdiri dari ikan terumbu, terumbu karang, dan makrobentos, serta kualitas perairan data pendukung seperti sosial ekonomi masyarakat setempat. CORALATION V diadakan sebagai kegiatan yang dilakukan sebagai ajang kenaikan jenjang bagi peserta diklat 34. Tahun ini kegiatan CORALATION dilaksanakan pada tanggal 28 November 2016 – 4 Desember 2016  di Pulau Pramuka, Kelurahan Pulau Panggang, Kabupaten Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta dengan tema “Potensi Perikanan di Kawasan Ekosistem Terumbu Karang Pulau Pramuka dan Sekitarnya”.

night-dive

Penyealaman malam (deep dive) yang merupakan salah satu materi Advanced Dive

Selama kegiatan CORALATION V dilaksanakan 13 kali penyelaman pengambilan data dan 2 penyelaman Advanced Diver seperti (deep dive) dan penyelaman malam (night dive). Lokasi penyelaman diantaranya di Dermaga 1 Pulau Pramuka, Dermaga 2 Pulau Pramuka, Utara Pulau Pramuka, Selatan Pulau Pramuka, Barat Daya Pulau Panggang, Selatan Pulau Panggang, dan Pulau Sekati. Kondisi terumbu karang di lokasi penyelaman secara umum mulai mengalami kerusakan, seperti adanya patahan karang (rubble) dan mulai ditumbuhi alga, dengan kondisi ikan terumbudan makrobentos yang beragam .

Selain melakukan pemantauan kondisi ekosistem terumbu karang, melalui kegiatan CORALATION V dilaksanakan pengambilan data sosial ekonomi masyarakat pesisir. Kegiatan ini dilakukan di Pulau Panggang dan diadakan pelatihan transplantasi terumbu karang yang terdiri dari pemaparan materi oleh pihak Taman Nasional Kepulauan Seribu dan dilanjutkan dengan praktik langsung di Dermaga 2 Pulau Pramuka.

 

 

Text : Diklat 34 | Dok : FDC-IPB | Editor : Tri Nur Sujatmiko

Share
Categories: Story | Leave a comment

REGULER FDC IS COMING !!

poster-reguler-fdc-2017

Ingin menjadi penyelam?
Melihat kehidupan bawah air lebih dekat?
BE A DIVER WITH US !! Sertifikasi “One Star SCUBA” Fisheries Diving Club IPB
Materi sertifikasi :
1.Pengantar akademik penyelaman (PAP)
2.Latihan keterampilan kolam (LKK)
3.Latihan perairan terbuka (LPT)
Fasilitas :
1. Sertifikasi selam CMAS POSSI
2. Buku panduan penyelaman
3. Alat selam
4. Konsumsi (LKK,PAP,LPT)
5. Mess 3 hari 2 malam di P.Pramuka, Kep.Seribu
6. T-Shirt peserta sertifikasi FDC-IPB
7. CD dokumentasi kegiatan
8. Transportasi & akomodasi (Bogor-P.Pramuka)
Persyaratan :
1. Membayar uang pendaftaran sebesar Rp.500.000,-
2. Surat keterangan kesehatan THT
3. Foto 3x4cm (soft copy)
4. Fotocopy KTP/KTM
*Tidak wajib bisa berenang
Tanggal penting !
Open recruitment (1-19 Januari 2017)
Technical meeting (21Januari 2017)
Only :
Rp 3.250.000/orang (25 peserta)
Rp 3.500.000/orang (20 peserta)
Formulir dapat diambil atau unduh disini !
Sekretariat FDC-IPB, Lt. Dasar Gedung Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB. Jln Lingkar Akademi No.1 Kampus IPB Dramaga, Bogor 16680 (Samping Kantin Dolphin).
Contact Person
Regi (085781206878)
Fakhry (081298887417)
Share
Categories: Advertisement | Tags: , , , | Leave a comment

Pelatihan Penilaian Kondisi Terumbu Karang Bidang Ikan Terumbu

Kegiatan pelatihan kondisi terumbu karang bidang ikan terumbu masih berlanjut. Kegiatan yang dilaksanakan selama 7 hari mulai dari tanggal 23 – 29 Oktober 2016, di Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O LIPI) dan UPT Loka Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Manusia Oseanografi Pulau Pari, Kepulauan Seribu. Peserta pada kegiatan ini berasal dari berbagai instansi, seperti ADB, WB, UMRAH, UNDIP, UNHAS, UNSRAT, UI, IPB, STP, LSM, dan Taman Nasional. Setelah mengikuti kuliah umun dari Prof. Dr. Suharsono, selanjutnya Aflaha A. Munib dan Praditio Anggoro (Diklat 31) dan 30 peserta lainnya siap melanjutkan rangkaian pelatihan monitoring kesehatan terumbu karang bidang ikan terumbu di Pulau Pari untuk mendata ikan indikator, yaitu famili Chaetodontidae.   

Pelatihan ini merupakan pelatihan dalam rangka mengemban misi COREMAP-CTI Fase III yaitu Penguatan Kelembagaan. LIPI bekerjasama dengan beberapa universitas yang ada di Indonesia bersama melakukan kegiatan pelatihan pemantauan kondisi ikan terumbu. Dengan dilakukannya kerjasama ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan tenaga penilai kondisi ikan terumbu yang berkompeten, terutama di daerah lokasi COREMAP-CTI.

tangkapan-layar-2016-11-04-18-53-55

Simulasi darat metode UVC untuk meningkatkan pemahaman peserta dalam mengaplikasikan kegiatan di lapang

Seluruh peserta diajarkan dan diberi pembekalan terkait metodologi penilaian kondisi ikan terumbu, pemahaman tentang penilaian ikan terumbu, penyamaan persepsi dalam identifikasi bidang ikan terumbu tingkat madya atau famili Chaetodontidae. Selain itu dilaksanakan simulasi darat mengenai metode UVC (Underwater Visual Census), pengolahan data, tata cara penulisan laporan yang baik, dan persentaasi laporan secara sistematik dan ilmiah. Total rangkaian pelatihan terdiri dari 10 jam mata latih (materi utama), 26 jam praktik metode UVC, 8 jam pengolahan dan analisis data, serta 11 jam penyusunan laporan dan persentasi.

Selain mendapatkan ilmu mengenai survey ikan terumbu, peserta juga mendapat pengalaman bertemu teman-teman baru dari seluruh Indonesia. Secara keseluruhan, kegiatan ini berjalan lancar dan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. “Terima kasih kepada para pengajar, instruktur dan pantia pihak LIPI. Semoga ilmu yang diperoleh dapat diaplikasikan kedepannya dan semoga silaturahmi yang ada tetap terjalin”, ujar Pak Dedy Sabaruddin, salah satu peserta dari Buton dan juga ketua kelas dalam kegiatan pelatihan ini.

 

Text : Aflaha Abdul Muunib | Dok : FDC-IPB | Editor : Tri Nur Sujatmiko

Share
Categories: Story | Leave a comment

MantaWatch Internship Program 2016

11092016_4

Peserta MantaWatch Internship Program 2016 (dari kiri-kanan: Tri Nur Sujatmiko (IPB), Amelia Nurkumala (UNDIP), Retno K. Ningrum (UNPAD), Rafid Shidqi (UNSOED))

MantaWatch merupakan organisasi yang  berpusat di Inggris. didirikan pada tahun 2010 dengan tujuan meningkatkan kesadaran, ketersediaan data, dan  penelitian manta dalam kegiatan konservasi pari manta. Salah satu program yang dijalankan oleh MantaWatch adalah MantaWatch Internship Program (MIP) yang bertujuan memberikan kesempatan kepada mahasiswa/i di Indonesia  belajar sebagai pemimpin  masa depan di bidang kelautan dan perikanan serta kegiatan konservasi di Indonesia. Program ini sudah berjalan sejak tahun 2012 dan didukung oleh Guy’s Trust, sebuah donatur dari Inggris yang mendukung kegiatan sosial  di Nepal dan Kamboja serta kegiatan konservasi kelautan di Labuan Bajo, Indonesia.

Tahun ini merupakan tahun kelima MIP yang diikuti oleh 4 mahasiswa, yaitu dari IPB, UNDIP, UNSOED, dan UNPAD. Program dilaksanakan selama 4 minggu dari tanggal 11 September – 8 Oktober 2016 di perairan Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT. Minggu pertama merupakan edukasi, dimana para intern diberi pemahaman mengenai program MantaWatch, Manta Survey, dan pelatihan Advance Open Water bersama PADI. Minggu kedua merupakan penelitian, dimana intern melaksanakan survey pari manta di perairan Taman Nasional Komodo, mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari sebelumnya. Minggu ketiga merupakan kolaborasi, dimana intern melakukan kolaborasi dengan SDN 1 Labuan Bajo dan SMKN 1 Labuan Bajo untuk memberikan pemahaman mengenai pari manta dan kebersihan lingkungan, serta melakukan penelitian bersama Conservation International dalam upaya konservasi pari manta. Minggu keempat adalah evaluasi, dimana intern melakukan presentasi akhir kepada Balai Taman Nasional Komodo dan wisatawan di Le Pirate sekaligus memperoleh informasi mengenai pengembangan karir di bidang konservasi oleh Hollie Booth dari Wild Conservation Society (WCS) dan Cornelia Rindth dari Nature Bank.

img_68901

Foto bersama setelah survey manta bersama kru Dive Komodo dan Direktor MantaWatch, Andrew Harvey (kiri)

Kegiatan Internship yang dilaksanakan oleh MantaWatch memiliki banyak manfaat, terutama dalam mengembangkan karir bagi intern di bidang konservasi, meningkatkan wawasan mengenai cara untuk mensukseskan suatu upaya konservasi, serta pentingnya melakukan kolaborasi dengan pihak yang terlibat untuk menjadikan suatu program berjalan sukses.

 

 

 

DCIM100GOPROG0088800.

Photo ID, merupakan metode yang digunakan dalam konservasi pari manta, dimana setiap manta memiliki bentuk corak yang berbeda dibagian sisi perut

 


 

Text : Tri Nur Sujatmiko | Dokumentasi : MIP 2016

Share
Categories: Story | Leave a comment

Pelatihan Monitoring Ikan Terumbu Bersama P2O LIPI

 

mptk-ikan-terumbu-8

Pemaparan materi oleh Prof. Dr. Suharsono

Senin, 24 Oktober 2016, dua anggota Fisheries Diving Club IPB, yaitu Aflaha A. Munib (Diklat 31) dan Praditio Anggoro (anggota luar biasa Diklat 31) mengikuti kuliah umun berjudul “Pengaruh Perubahan Iklim Global Terhadap Biologi, Fisiologi, dan Sebaran Ikan”. Kuliah ini merupakan pengantar dalam kegiatan pelatihan monitoring kesehatan terumbu karang bidang ikan terumbu yang disampaikan oleh ahli terumbu karang Indonesia, Prof. Dr. Suharsono yang diadakan oleh Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O LIPI), Ancol.

Penyampaian materi pokok kuliah dimulai dengan pemaparan tujuan kegiatan oleh Pak Suharsono yaitu kegiatan atau pelatihan ini mengacu pada peraturan Kementrian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (Menristek) terkait pentingnya sertifikasi kompetensi untuk menghadapai era globalisasi, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), dan era digital pada perkembangan jaman kedepan.

mptk-ikan-terumbu-7

Didit (Kiri) dan Aflaha (Kanan) foto bersama Prof. Dr. Suharsono (Tengah)

Inti dari kuliah tersebut, beliau menyampaikan bahwa perubahan perairan seperti kenaikan suhu, pH, terutama faktor kimia-fisik laut mempengaruhi dalam sifat atau tingkah laku dari ikan. Contohnya adalah fenomena bleaching (pemutihan karang), kenaikan muka laut, dan perubahan sirkulasi (El Nino) mempengaruhi terhadap sebaran ikan. Selain itu juga peserta diberi pengenalan terhadap identifikasi ikan dari Family Chaetodontidae atau sering dikenal ikan kepe-kepe yang merupakan jenis ikan indikator di ekosistem terumbu karang. Yang mengesankan dari kegiatan ini adalah materi disampaikan dengan sangat sederhana dan jelas sehingga peserta yang berasal dari seluruh Indonesia dapat memahami dengan baik. “Ini merupakan pengalaman berkesan buat saya dan harapannya ilmu yang didapatkan dapat berguna buat pengembangan karir saya”, ujar Parditio Anggoro yang biasa di akrab Didit.

 

Text : Aflaha Abdul Munib | Dokumentasi : FDC-IPB | Editor : Tri Nur Sujatmiko

Share
Categories: Story | Leave a comment

Tingkatkan Keilmiahan dengan Memahami Kesehatan Karang

Penyampaian materi Kesehatan Karang oleh Bang Begin

Fisheries Diving Club (FDC-IPB) dibentuk dengan tujuan menyalurkan minat mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan dalam bidang olahraga selam dan meningkatkan kemampuan pendidikan serta teknis kegiatan observasi bawah laut secara tepat, baku, dan aman. Salah satunya yaitu menunjang kegiatan–kegiatan ilmiah dalam bidang kegiatan observasi bawah laut. Oleh karena itu, tanggal 12 Oktober 2016 di ruang sekretariat FDC, dilaksanakan kuliah mengenai Coral Health (kesehatan karang) yang disampaikan oleh salah satu dosen dari Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Institut Pertanian Bogor dan juga merupakan salah satu anggota luar biasa (alumni) FDC sekaligus pembina FDC, Bang Beginer Subhan (Diklat 15 FDC-IPB).

coral-health-1

Suasana ketika penyampaian materi berlangsung

Materi yang disampaikan mengacu kepada Indo-Pacific Coral Health yang di dalamnya menjelaskan terkait kesehatan karang, seperti predation, coloured band diseases, tissue discolouration, growth anomalies, dan sebagainya. Sehingga melalui kuliah ini diharapkan mampu meningkatan kualitas keilmiahan dan pengetahuan anggota FDC terutama dalam kegiatan observasi bawah laut dan penelitian yang berhubungan dengan kesehatan dari hewan karang. “Terimakasih untuk bang Begin atas Ilmunya, semoga bermanfaat untuk kami dan dapat diimplementasikan dalam bentuk penelitian” ujar Ahmad Eko Suprianto, selaku Ketua FDC.

 

Text : Aflaha Abdul Munib | Dokumentasi : FDC-IPB | Editor : Tri Nur Sujatmiko

Share
Categories: Story | Leave a comment