Reguler FDC IPB 2017

DCIM100GOPROGOPR1999.(24/02) Olahraga selam merupakan olahraga paling berbahaya di dunia, namun pada saat ini selam merupakan salah satu olahraga yang paling diminati berbagai kalangan. Dalam rangka memfasilitasi minat tersebut, Fisheries Diving Club (FDC-IPB)  mengadakan program sertifikasi bagi kalangan umum. Kegiatan ini bertujuan untuk melatih dan membagi ilmu tentang penyelaman, sehingga penyelaman dapat lebih aman dan menyenangkan

 

Pada bulan FebruIMG_0631ari 2017, FDC-IPB mengadakan program sertifikasi yaitu Reguler FDC dengan jumlah peserta 12 orang. Program ini terbagi atas 3 rangkaian sebagai syarat untuk sertikasi selam POSSI-CMAS jenjan A1 ( Open Water ) yaitu pengantar akademik penyelaman (PAP), Latihan keterampilan kolam (LKK), dan Latihan Perairan Terbuka (LPT)

Kegiatan LPT dilaksanakan di Pulau Pramuka dan sekitarnya , Kepulauan Seribu, Jakarta. Kegiatan ini dirancang oleh Varrenco Josye (FDC.XXXI.26) dan Boy M Kennedy (FDC.XXXI.5) Sebagai  Dive Master sertifikasi reguler 2017. Penyelaman dilakukan di Dermaga 1 dan Dermaga 2 Pulau Pramuka, Pulau Air dan Pulang Panggang. Peserta sangat antusias dalam mengikuti kegiatan LPT ini dan menjelajahi indahnya bawah laut di Kepulauan Seribu.IMG_9752 copy

Setiap malam usai kegiatan, selalu dilakukan kegiatan briefing serta evaluasi antara peserta dan panitia guna memperbaiki kesalahan, baik saat penyelaman atau kegiatan. Malam terakhir LPT diakhir dengan menikmati hidangan BBQ yaitu cumi dan ikan segar bakar dengan racikan bumbu yang menggugah selera. Rangkaian LPT selama tiga hari dua malam berjalan dengan lancar meskipun diguyur hujan pada malam terakhir. Terlihat hubungan yang baik antara panitia, mentor dan peserta reguler FDC-IPB meskipun dari latar belakang yang berbeda.

“Sangat menyenangkan, soalnya diving pertama kali dan serasa liburan”, ucap salah satu peserta Reguler 2017. Regitri Darmawan (FDC.XXXIII.32) sebagai ketua pelaksana Reguler FDC 2017 mengatakan “kegiatan ini mencerminkan bahwa semua orang dapat menyelam, semoga kegiatan ini terus berjalan dan lebih baik kedepannya”.

Share
Categories: Story | Leave a comment

Biota Laut Ada Yang Berbahaya ???

BIOTA BAHAYA NEW
 70% permukaan bumi dilapisi oleh lautan, dan sisanya adalah daratan. Di daratan sendiri terdapat beragam biota yang menarik perhatian karena keindahan dan keunikan yang dimiliki masing-masing biota tersebut. Faktanya 50-80% biota yang ada di planet bumi tersebar di antara luasnya lautan yang baru bisa dijelajahi oleh manusia kurang dari 5% dari seluruh lautan di bumi ini. Bayangkan jika di daratan yang hanya 30% dari luas permukaan bumi ini terdapat berbagai macam biota yang beragam jenis dan bentuknya itu, bagaimana dengan biota di lautan yang luas? Tentu masih sangat banyak biota yang lebih indah dan menakjubkan yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Namun diantara banyak dan beragamnya biota laut tersebut, terdapat pula beragam jenis biota laut berbahaya yang dapat membahayakan manusia karena gigitannya maupun bisa/racun yang dimiliki biota tersebut. Dan diantara banyaknya biota berbahaya di lautan, beberapa diantaranya sudah teridentifikasi antara lain jenis biota berbahaya yang menggigit antara lain :

1. Hiu , merupakan ikan dengan kerangka tulang rawan dan tubuh yang ramping. Mampu berenang dengan kecepatan maksimal 50km/h. Usahakan jauhi ikan ini ketika menyelam ataupun berada di laut karena ikan ini merupakan hewan yang agresif dan peka terhadap rangsangan.

2. Barracuda , salah satu jenis ikan pelagis ini memiliki tubuh ramping dan gigi yang tajam. Jangan bawa benda yang dapat memantulkan cahaya agar tidak menarik perhatian biota agresif ini.

3. Moray , salah satu jenis ikan ini hidup di celah-celah karang yang pada dasarnya bukanlah hewan yang agresif. Tetapi jangan lakukan gerakan tiba-tiba ketika berada di dekat hewan ini.

Sedangkan jenis biota berbahaya yang beracun/berbisa antara lain :

1. Lionfish , di Indonesia dikenal sebagai ikan lepu ini biasa hidup di terumbu karang. Racun ikan ini terletak pada ujung-ujung sirip dorsal dari ikan ini. Walaupun beracun, ikan ini bukanlah jenis ikan yang agresif. Namun, usahakan jangan menyentuh ikan ini ketika menyelam.

2. Ikan Pari, biasa hidup di dasar perairan laut yang berpasir. Racun ikan Pari terletak di ujung ekor yang berduri dan duri akan tertinggal di tubuh korbannya ketika tertusuk dan dapat menyebabkan rasa nyeri. Usahakan jangan mengganggu ikan ini ketika bertemu di bawah laut.

3. Ular Laut, pada dasarnya bukanlah biota yang agresif dan memiliki mulut yang kecil, namun kekuatan bisa ular ini 60 kali lebih kuat dari bisa ular kobra.

4. Blue Ring Octopus, salah satu jenis gurita ini memiliki corak cincin berwarna biru di sekujur tubuhnya dan memiliki tubuh yang mungil. Namun, karena tubuh mungilnya sehingga gigitan beracun dari biota ini tidak akan terasa oleh korban. Racun ini dapat menyebabkan sistim pernafasan terganggu hingga menyebabkan kematian bila tidak segera ditangani.

5. Karang Api, jenis karang ini memiliki rambut-rambut halus yang dapat menyebabkan rasa seperti terbakar jika tersentuh oleh kulit.

6. Ikan Buntal, racun ikan ini terdapat pada hati, telur, dan saluran pencernaan ikan buntal. Ikan ini dapat dikonsumsi dengan dibuang dahulu bagian-bagian yang mengandung racun tersebut.

By : Diklat 35 FDC-IPB

Share
Categories: Story | Leave a comment

Seminar dan Launching Simulasi Diklat 34

IMG_8677 copy

Presentasi hasil dari diklat XXXIV

Rabu, 18 Januari 2017 adalah hari bersejarah bagi diklat XXXIV Fisheries Diving Club IPB karena telah menyelenggarakan Seminar dan Launching Hasil CORALATION V (Coral Reef Ecosystem Monitoring Simulation V). Acara ini merupakan presentasi hasil dari kegiatan monitoring terumbu karang yang dilaksanakan di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta oleh tim diklat XXXIV pada tanggal 28 November 2016 – 18 Desember 2016. Acara yang dilaksanakan di Ruang Diskusi Fakultas 1 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB ini dimulai pada pukul 19.30 WIB yang dihadiri oleh anggota FDC dan tamu undangan yang bersedia menyempatkan waktunya untuk hadir. Seminar dan Launching Hasil CORALATION V ini  dipandu oleh Firsta Kusuma sebagai moderator serta Exist Saraswati, Farida Rizki, Idham Akbar, M. Ichsan, Nadya Jeny, Prasari Riski, Ridha Fathihatunnisa, Siti Khodijah, dan Sunedi sebagai presentator.

IMG_8800 copy

Diklat XXXIVfoto bersama para mentor dari diklat XXXII dan XXXIII

Acara ini dibuka dengan sambutan dari ketua FDC, Ahmad Eko Suprianto dan dilanjutkan dengan presentasi pemaparan hasil CORALATION V oleh diklat XXXIV. Presentasi terdiri dari pendahuluan, hasil dan pembahasan fisika kimia perairan, terubu karang, ikan terumbu, dan makrobenthos, serta kondisi sosial ekonomi masyarakat Pulau Pramuka dan sekitarnya. Selanjutnya dibuka sesi tanya jawaboleh 4 orang penanya yang kemudian dijawab oleh diklat XXXIV secara bergantian. Setelah sesi tanya jawab selesai, dilanjutkan dengan launching output dari CORALATION V yaitu laporan ilmiah, laporan populer, video dukumenter dan perjalanan diklat, serta infografis dari masing-masing spesialisasi (terumbu karang, ikan terumbu dan makrobenthos). Kemudian acara dilanjutkan dengan pemberian kenang-kenangan oleh diklat XXXIV yang diwakilkan oleh Sunedi kepada Kepala Sekolah diklat XXXIV, Wedi Andika sekaligus menjadi penutup dari acara Seminar dan Launching Hasil CORALATION V. Setelah acara selesai tidak lupa anggota diklat XXXIV berfoto bersama dengan para mentor yang telah membimbingnya hingga sampai terselenggaranya Seminar dan Launching Hasil CORALATION V ini.

IMG_8735 copy

pemberian kenang-kenangan dari diklat XXXIV untuk kepala sekolah, Wedi Andika

Teks: Prasari Riski

Dokumentasi: FDC IPB

Share
Categories: Story | Leave a comment

CORALATION V

pengambilan-data-2

Pengamatan kondisi terumbu karang di perairan Pulau Pramuka

CORALATION V (Coral Reef Ecosystem Monitoring Simulation V) merupakan kegiatan tahunan yang dilakukan Fisheries Diving Club IPB. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan skill penyelaman dan pengambilan data ekosistem terumbu karang, terdiri dari ikan terumbu, terumbu karang, dan makrobentos, serta kualitas perairan data pendukung seperti sosial ekonomi masyarakat setempat. CORALATION V diadakan sebagai kegiatan yang dilakukan sebagai ajang kenaikan jenjang bagi peserta diklat 34. Tahun ini kegiatan CORALATION dilaksanakan pada tanggal 28 November 2016 – 4 Desember 2016  di Pulau Pramuka, Kelurahan Pulau Panggang, Kabupaten Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta dengan tema “Potensi Perikanan di Kawasan Ekosistem Terumbu Karang Pulau Pramuka dan Sekitarnya”.

night-dive

Penyealaman malam (deep dive) yang merupakan salah satu materi Advanced Dive

Selama kegiatan CORALATION V dilaksanakan 13 kali penyelaman pengambilan data dan 2 penyelaman Advanced Diver seperti (deep dive) dan penyelaman malam (night dive). Lokasi penyelaman diantaranya di Dermaga 1 Pulau Pramuka, Dermaga 2 Pulau Pramuka, Utara Pulau Pramuka, Selatan Pulau Pramuka, Barat Daya Pulau Panggang, Selatan Pulau Panggang, dan Pulau Sekati. Kondisi terumbu karang di lokasi penyelaman secara umum mulai mengalami kerusakan, seperti adanya patahan karang (rubble) dan mulai ditumbuhi alga, dengan kondisi ikan terumbudan makrobentos yang beragam .

Selain melakukan pemantauan kondisi ekosistem terumbu karang, melalui kegiatan CORALATION V dilaksanakan pengambilan data sosial ekonomi masyarakat pesisir. Kegiatan ini dilakukan di Pulau Panggang dan diadakan pelatihan transplantasi terumbu karang yang terdiri dari pemaparan materi oleh pihak Taman Nasional Kepulauan Seribu dan dilanjutkan dengan praktik langsung di Dermaga 2 Pulau Pramuka.

 

 

Text : Diklat 34 | Dok : FDC-IPB | Editor : Tri Nur Sujatmiko

Share
Categories: Story | Leave a comment

REGULER FDC IS COMING !!

poster-reguler-fdc-2017

Ingin menjadi penyelam?
Melihat kehidupan bawah air lebih dekat?
BE A DIVER WITH US !! Sertifikasi “One Star SCUBA” Fisheries Diving Club IPB
Materi sertifikasi :
1.Pengantar akademik penyelaman (PAP)
2.Latihan keterampilan kolam (LKK)
3.Latihan perairan terbuka (LPT)
Fasilitas :
1. Sertifikasi selam CMAS POSSI
2. Buku panduan penyelaman
3. Alat selam
4. Konsumsi (LKK,PAP,LPT)
5. Mess 3 hari 2 malam di P.Pramuka, Kep.Seribu
6. T-Shirt peserta sertifikasi FDC-IPB
7. CD dokumentasi kegiatan
8. Transportasi & akomodasi (Bogor-P.Pramuka)
Persyaratan :
1. Membayar uang pendaftaran sebesar Rp.500.000,-
2. Surat keterangan kesehatan THT
3. Foto 3x4cm (soft copy)
4. Fotocopy KTP/KTM
*Tidak wajib bisa berenang
Tanggal penting !
Open recruitment (1-19 Januari 2017)
Technical meeting (21Januari 2017)
Only :
Rp 3.250.000/orang (25 peserta)
Rp 3.500.000/orang (20 peserta)
Formulir dapat diambil atau unduh disini !
Sekretariat FDC-IPB, Lt. Dasar Gedung Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB. Jln Lingkar Akademi No.1 Kampus IPB Dramaga, Bogor 16680 (Samping Kantin Dolphin).
Contact Person
Regi (085781206878)
Fakhry (081298887417)
Share
Categories: Advertisement | Tags: , , , | Leave a comment

Pelatihan Penilaian Kondisi Terumbu Karang Bidang Ikan Terumbu

Kegiatan pelatihan kondisi terumbu karang bidang ikan terumbu masih berlanjut. Kegiatan yang dilaksanakan selama 7 hari mulai dari tanggal 23 – 29 Oktober 2016, di Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O LIPI) dan UPT Loka Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Manusia Oseanografi Pulau Pari, Kepulauan Seribu. Peserta pada kegiatan ini berasal dari berbagai instansi, seperti ADB, WB, UMRAH, UNDIP, UNHAS, UNSRAT, UI, IPB, STP, LSM, dan Taman Nasional. Setelah mengikuti kuliah umun dari Prof. Dr. Suharsono, selanjutnya Aflaha A. Munib dan Praditio Anggoro (Diklat 31) dan 30 peserta lainnya siap melanjutkan rangkaian pelatihan monitoring kesehatan terumbu karang bidang ikan terumbu di Pulau Pari untuk mendata ikan indikator, yaitu famili Chaetodontidae.   

Pelatihan ini merupakan pelatihan dalam rangka mengemban misi COREMAP-CTI Fase III yaitu Penguatan Kelembagaan. LIPI bekerjasama dengan beberapa universitas yang ada di Indonesia bersama melakukan kegiatan pelatihan pemantauan kondisi ikan terumbu. Dengan dilakukannya kerjasama ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan tenaga penilai kondisi ikan terumbu yang berkompeten, terutama di daerah lokasi COREMAP-CTI.

tangkapan-layar-2016-11-04-18-53-55

Simulasi darat metode UVC untuk meningkatkan pemahaman peserta dalam mengaplikasikan kegiatan di lapang

Seluruh peserta diajarkan dan diberi pembekalan terkait metodologi penilaian kondisi ikan terumbu, pemahaman tentang penilaian ikan terumbu, penyamaan persepsi dalam identifikasi bidang ikan terumbu tingkat madya atau famili Chaetodontidae. Selain itu dilaksanakan simulasi darat mengenai metode UVC (Underwater Visual Census), pengolahan data, tata cara penulisan laporan yang baik, dan persentaasi laporan secara sistematik dan ilmiah. Total rangkaian pelatihan terdiri dari 10 jam mata latih (materi utama), 26 jam praktik metode UVC, 8 jam pengolahan dan analisis data, serta 11 jam penyusunan laporan dan persentasi.

Selain mendapatkan ilmu mengenai survey ikan terumbu, peserta juga mendapat pengalaman bertemu teman-teman baru dari seluruh Indonesia. Secara keseluruhan, kegiatan ini berjalan lancar dan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. “Terima kasih kepada para pengajar, instruktur dan pantia pihak LIPI. Semoga ilmu yang diperoleh dapat diaplikasikan kedepannya dan semoga silaturahmi yang ada tetap terjalin”, ujar Pak Dedy Sabaruddin, salah satu peserta dari Buton dan juga ketua kelas dalam kegiatan pelatihan ini.

 

Text : Aflaha Abdul Muunib | Dok : FDC-IPB | Editor : Tri Nur Sujatmiko

Share
Categories: Story | Leave a comment

MantaWatch Internship Program 2016

11092016_4

Peserta MantaWatch Internship Program 2016 (dari kiri-kanan: Tri Nur Sujatmiko (IPB), Amelia Nurkumala (UNDIP), Retno K. Ningrum (UNPAD), Rafid Shidqi (UNSOED))

MantaWatch merupakan organisasi yang  berpusat di Inggris. didirikan pada tahun 2010 dengan tujuan meningkatkan kesadaran, ketersediaan data, dan  penelitian manta dalam kegiatan konservasi pari manta. Salah satu program yang dijalankan oleh MantaWatch adalah MantaWatch Internship Program (MIP) yang bertujuan memberikan kesempatan kepada mahasiswa/i di Indonesia  belajar sebagai pemimpin  masa depan di bidang kelautan dan perikanan serta kegiatan konservasi di Indonesia. Program ini sudah berjalan sejak tahun 2012 dan didukung oleh Guy’s Trust, sebuah donatur dari Inggris yang mendukung kegiatan sosial  di Nepal dan Kamboja serta kegiatan konservasi kelautan di Labuan Bajo, Indonesia.

Tahun ini merupakan tahun kelima MIP yang diikuti oleh 4 mahasiswa, yaitu dari IPB, UNDIP, UNSOED, dan UNPAD. Program dilaksanakan selama 4 minggu dari tanggal 11 September – 8 Oktober 2016 di perairan Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT. Minggu pertama merupakan edukasi, dimana para intern diberi pemahaman mengenai program MantaWatch, Manta Survey, dan pelatihan Advance Open Water bersama PADI. Minggu kedua merupakan penelitian, dimana intern melaksanakan survey pari manta di perairan Taman Nasional Komodo, mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari sebelumnya. Minggu ketiga merupakan kolaborasi, dimana intern melakukan kolaborasi dengan SDN 1 Labuan Bajo dan SMKN 1 Labuan Bajo untuk memberikan pemahaman mengenai pari manta dan kebersihan lingkungan, serta melakukan penelitian bersama Conservation International dalam upaya konservasi pari manta. Minggu keempat adalah evaluasi, dimana intern melakukan presentasi akhir kepada Balai Taman Nasional Komodo dan wisatawan di Le Pirate sekaligus memperoleh informasi mengenai pengembangan karir di bidang konservasi oleh Hollie Booth dari Wild Conservation Society (WCS) dan Cornelia Rindth dari Nature Bank.

img_68901

Foto bersama setelah survey manta bersama kru Dive Komodo dan Direktor MantaWatch, Andrew Harvey (kiri)

Kegiatan Internship yang dilaksanakan oleh MantaWatch memiliki banyak manfaat, terutama dalam mengembangkan karir bagi intern di bidang konservasi, meningkatkan wawasan mengenai cara untuk mensukseskan suatu upaya konservasi, serta pentingnya melakukan kolaborasi dengan pihak yang terlibat untuk menjadikan suatu program berjalan sukses.

 

 

 

DCIM100GOPROG0088800.

Photo ID, merupakan metode yang digunakan dalam konservasi pari manta, dimana setiap manta memiliki bentuk corak yang berbeda dibagian sisi perut

 


 

Text : Tri Nur Sujatmiko | Dokumentasi : MIP 2016

Share
Categories: Story | Leave a comment

Pelatihan Monitoring Ikan Terumbu Bersama P2O LIPI

 

mptk-ikan-terumbu-8

Pemaparan materi oleh Prof. Dr. Suharsono

Senin, 24 Oktober 2016, dua anggota Fisheries Diving Club IPB, yaitu Aflaha A. Munib (Diklat 31) dan Praditio Anggoro (anggota luar biasa Diklat 31) mengikuti kuliah umun berjudul “Pengaruh Perubahan Iklim Global Terhadap Biologi, Fisiologi, dan Sebaran Ikan”. Kuliah ini merupakan pengantar dalam kegiatan pelatihan monitoring kesehatan terumbu karang bidang ikan terumbu yang disampaikan oleh ahli terumbu karang Indonesia, Prof. Dr. Suharsono yang diadakan oleh Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O LIPI), Ancol.

Penyampaian materi pokok kuliah dimulai dengan pemaparan tujuan kegiatan oleh Pak Suharsono yaitu kegiatan atau pelatihan ini mengacu pada peraturan Kementrian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (Menristek) terkait pentingnya sertifikasi kompetensi untuk menghadapai era globalisasi, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), dan era digital pada perkembangan jaman kedepan.

mptk-ikan-terumbu-7

Didit (Kiri) dan Aflaha (Kanan) foto bersama Prof. Dr. Suharsono (Tengah)

Inti dari kuliah tersebut, beliau menyampaikan bahwa perubahan perairan seperti kenaikan suhu, pH, terutama faktor kimia-fisik laut mempengaruhi dalam sifat atau tingkah laku dari ikan. Contohnya adalah fenomena bleaching (pemutihan karang), kenaikan muka laut, dan perubahan sirkulasi (El Nino) mempengaruhi terhadap sebaran ikan. Selain itu juga peserta diberi pengenalan terhadap identifikasi ikan dari Family Chaetodontidae atau sering dikenal ikan kepe-kepe yang merupakan jenis ikan indikator di ekosistem terumbu karang. Yang mengesankan dari kegiatan ini adalah materi disampaikan dengan sangat sederhana dan jelas sehingga peserta yang berasal dari seluruh Indonesia dapat memahami dengan baik. “Ini merupakan pengalaman berkesan buat saya dan harapannya ilmu yang didapatkan dapat berguna buat pengembangan karir saya”, ujar Parditio Anggoro yang biasa di akrab Didit.

 

Text : Aflaha Abdul Munib | Dokumentasi : FDC-IPB | Editor : Tri Nur Sujatmiko

Share
Categories: Story | Leave a comment

Tingkatkan Keilmiahan dengan Memahami Kesehatan Karang

Penyampaian materi Kesehatan Karang oleh Bang Begin

Fisheries Diving Club (FDC-IPB) dibentuk dengan tujuan menyalurkan minat mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan dalam bidang olahraga selam dan meningkatkan kemampuan pendidikan serta teknis kegiatan observasi bawah laut secara tepat, baku, dan aman. Salah satunya yaitu menunjang kegiatan–kegiatan ilmiah dalam bidang kegiatan observasi bawah laut. Oleh karena itu, tanggal 12 Oktober 2016 di ruang sekretariat FDC, dilaksanakan kuliah mengenai Coral Health (kesehatan karang) yang disampaikan oleh salah satu dosen dari Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Institut Pertanian Bogor dan juga merupakan salah satu anggota luar biasa (alumni) FDC sekaligus pembina FDC, Bang Beginer Subhan (Diklat 15 FDC-IPB).

coral-health-1

Suasana ketika penyampaian materi berlangsung

Materi yang disampaikan mengacu kepada Indo-Pacific Coral Health yang di dalamnya menjelaskan terkait kesehatan karang, seperti predation, coloured band diseases, tissue discolouration, growth anomalies, dan sebagainya. Sehingga melalui kuliah ini diharapkan mampu meningkatan kualitas keilmiahan dan pengetahuan anggota FDC terutama dalam kegiatan observasi bawah laut dan penelitian yang berhubungan dengan kesehatan dari hewan karang. “Terimakasih untuk bang Begin atas Ilmunya, semoga bermanfaat untuk kami dan dapat diimplementasikan dalam bentuk penelitian” ujar Ahmad Eko Suprianto, selaku Ketua FDC.

 

Text : Aflaha Abdul Munib | Dokumentasi : FDC-IPB | Editor : Tri Nur Sujatmiko

Share
Categories: Story | Leave a comment

Perdalam Teori Two Star SCUBA bersama Instruktur FDC

Bogor – Setelah melewati tahap Skin, SCUBA, dan Latihan Perairan Terbuka (LPT), sebanyak 9 orang Diklat 34 FDC-IPB telah memasuki tahap Simulasi, yaitu rangkaian terakhir dari proses pendidikan dan latihan yang fokus dalam pengambilan data ekosistem terumbu karang. Tahap ini melatih masing-masing individu Diklat untuk belajar pengambilan data terumbu karang, ikan terumbu, dan makrobenthos. Tahun ini kegiatan simulasi Diklat 34
bernama CORALATION V (Coral Reef Ecosystem Monitoring and Simulation V) yang merupakan kegiatan tahunan dimulai dari diklat 30 (tahun 2012) di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Sehingga dalam kegiatan ini setiap diklat diharuskan untuk melaksanakan pelatihan kenaikan jenjang selam A2 (Two Star SCUBA).

kuliah-a2

Penyampaian materi dari Instruktur FDC, Bang Uus Abdul Kudus

Sebelum melaksanakan praktek di lapang, tentunya pemberian teori di kelas penting dilakukan agar setiap diklat memiliki wawasan mengenai ilmu yang akan dilaksanakan nantinya. Materi diberikan langsung oleh Bang Uus Abdul Kudus yang merupakan salah satu alumni FDC (anggota luar biasa) Diklat 11 dan sekaligus instruktur selam FDC. Kegiatan ini diikuti oleh 22 orang anggota FDC lainnya untuk me-refresh materi-materi Two Star SCUBA. Kegiatan ini dilaksanakan tanggal 13 Oktober 2016, bertempat di Sekretariat FDC.

Materi yang disampaikan yaitu Navigasi, Penyelaman dalam (deep dive), dan penyelaman malam (night dive) sebagai syarat sertifikasi A2 yang nantinya akan dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan CORALATION V. Selain itu, Bang Uus juga menyampaikan beberapa saran dan masukan untuk teknis kegiatan di lapangnya nantinya. “Melalui pemberian materi dari instruktur diharapkan dapat diaplikasikan saat kegiatan sertifikasi di lapang nanti”, ujar Karizma, Koordinator Divisi Penelitian dan Pengembangan (Litbang) FDC.

 

Text : Aflaha Abdul Munib | Dokumentasi : FDC-IPB | Editor : Tri Nur Sujatmiko

Share
Categories: Story | Leave a comment

Meningkatkan Wawasan Kemaritiman Melalui Ekspedisi Nusantara Jaya (ENJ) 2016

Ekspedis Nusantara Jaya (ENJ) merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh  Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Republik Indonesia (KEMENKO MARITIM) dengan tujuan meningkatkan konektivitas di pulau-pulau terdepan, terpencil, dan wilayah perbatasan melalui peningkatan akses terhadap kebutuhan bahan pokok harian, fasilitas kesehatan, fasilitas pendididikan, sarana, dan prasarannya guna tercapainya percepatan pembangunan di wilayah perbatasan. Program ini dilakukan untuk mendukung program pemerintah terkait Nawacita 1 dan 3.

Tahun ini Fisheries Diving Club (FDC) IPB mengirim dua delagasi yaitu Ahmad Eko Suprianto (FDC.XXXII.02) dan Zainal Fahrudin (FDC.XXXIII.23) yang tergabung kedalam region Jawa Barat dengan jumlah peserta 43 orang yang terdiri dari mahasiswa IPB, ITB, UNPAD, dan umum yang berdomisili di Jawa Barat. Peserta yang tergabung dalam tim ENJ diwajibkan membuat esai dengan tema “Jayamahe Jayamaha”. Program ini dilaksanakan sejak tanggal 1-8 Oktober 2016 yang dilaksanakan di Pulau Harapan dan Kelapa, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.

bermain-sabil-belajar

Bermain sambil belajar

Kegiatan ini terbagi menjadi 3 divisi yaitu : pendidikan, budaya, dan lingkungan. Semua divisi tersebut saling bersinergis untuk mencapai esensi dari program ini. Divisi pendidikan mengajak anak-anak untuk gemar mengaji dan membaca dengan sasaran anak-anak Taman Baca Masyarakat, mengenalkan komputer, membuat kelas inspirasi dengan menceritakan tokoh sukses yang diambil dari peserta ENJ itu sendiri, mengenalkan kepada anak-anak SD tentang ilmu sains lewat demonstrasi alat peraga sains dan percobaan-percobaan unik, serta mengajak anak-anak untuk inovatif dan berekreasi serta mengeksperisikan diri dan potensi lewat pentas seni.

DCIM104MEDIA

Transplantasi Karang, sebagai media rehabilitasi ekosistem

Divisi budaya bertugas dalam melakukan analisis terhadap kearifan lokal di daerah tersebut, seperti penggunaan bubu sebagai alat tangkap ikan dan menggali potensi anak-anak Pulau Harapan dan Pulau Kelapa.  Divisi lingkungan melakukan kegiatan coastal clean up di Pulau Belanda dan Pulau Bira, penyuluhan mengenai bahaya buang sampah sembarang, transpalasi karang sebagai upaya untuk rehabilitasi terumbu karang, dan penanaman mangrove sebagai bentuk pentingnya mangrove untuk menahan erosi pantai dengan target anak-anak SDN 1 Pagi Harapan.

 

 

Berdasarkan aspek target wilayah, program ini bermanfaat dalam membantu masyarakat Pulau Kelapa dan Harapan terutama dalam hal pembimbingan belajar, pengembangan diri, dan pendidikan karakter untuk anak usia sekolah dan ekonomi kreatif kepada masyarakat. Sedangkan bagi peserta ENJ sendiri kegiatan ini dapat menjadi sarana untuk meningkatkan wawasan kemaritiman dan sarana pembelajaran terhadap pengabdian ke masyarakat.

bibit-transpalasi-karang

Bibit transplantasi karang

penanaman-mangrove-bersama-anak-sd

Penanaman mangrove bersama siswa SDN 1 Pagi Harapan

coastal-clean-up-pulau-bira

Coastal Clean Up di Pulau Bira

Teks : Ahmad Eko Suprianto dan Zainal Fahrudin | Editor : Tri Nur Sujatmiko | Dokumentasi : Tim ENJ 2016


 

Share
Categories: Story | Leave a comment

Kuliah Umum bersama Menteri Kelautan dan Perikanan RI

img-20161013-wa0015

Ibu Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan RI di dampingi oleh ‎Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, M.Sc (Rektor IPB)

13 Oktober 2016, anggota FDC IPB Sari Indiani Putri (diklat 31), Tri Nur sujatmiko (diklat 31), Dede Riyanto (diklat 33), Eko Zudah (diklat 33), Zainal Fahrudin (diklat 33), dan Christoforus Aries Tirta (diklat 30) berkesempatan menghadiri kuliah umum bersama Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Ibu Susi Pudjiastuti. Materi kuliah umum adalah “Kedaulatan Perikanan dan Melalui Pemberantasan Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU) Fishing”. Kuliah umum ini dihadiri oleh Rektor Institut Pertanian Bogor, Rektor Institut Teknologi Sepuluh November, Rektor Universitas Hasanuddin, Rektor Universitas Sam Ratulangi, Direktur CTI-CFF (Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, and Food Security), dan civitas IPB. Kuliah umum ini diawali dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara IPB – KKP, Balitbang KP – Dekan FPIK IPB, IPB – CTI CFF, IPB – ITS, ITS – CTI CFF, UNHAS – CTI CFF, dan UNSTRAT – CTI CFF.

img_20161013_093821

Pendatangan MoU antara IPB dengan KKP

“Sekilas tentang IUU Fishing yaitu kegiatan eksploitasi berlebih terhadap stok ikan, kerusakan kolateral ekosisitem, dan kerugian negara. Harapan dengan adanya penanggulangan IUU Fishing ini adalah kita berusaha menjadikan perikanan kita ini terkelola secara modern dengan ciri Legal Reported and Regulated Fisheries. Secara global, sudah di estimasi dan sudah di publikasikan pada tahun 2009 hampir sekitar 250 triliun. Di Indonesia, tepatnya di Laut Arafura sudah 1 juta ton/tahun hilang akibat illegal fishing”- tutur guru besar FPIK IPB Prof. Dr. Ir. Indra Jaya, M.Sc.

Kuliah Umum yang disampaikan oleh Ibu Mentri mencangkup tindakan yang dilakukan pada illegal fishing, bagaimana para kapal dari negara tetangga masuk ke Indonesia. Seminggu setelah diangkat oleh Presiden untuk menjadi mentri, Bu Susi melakukan pertemuan dengan para dubes dari negara-negara yang berterkaitan dengan illegal fishing yaitu China, Vietnam, Malaysia, Philiphina, dan Australia dan semua setuju atas pertemuan pada hari itu. Bu Susi menerapkan peraturan dan tindakan penenggelaman kapal yang terlihat manfaat yaitu sudah berkurang kapal-kapal asing yang masuk ke wilayah perairan Indonesia dengan melihat hasil stasistik bahwa PDB sektor perikanan meningkat ketika nilai PDB di sektor lain menurun.

img_20161013_094720

Pemaparan Kuliah Umum bersama Ibu Susi

IUU Fishing tidak hanya melibatkan masalah perikanan, melainkan semua aspek yang dapat merugikan negara, seperti penyeludupan narkoba, penyelundupan miras, human traffic, penyeludupan senjata yang bisa mengancam kedaulatan dan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, Bu Susi meminta kepada akademisi dari setiap universitas agar secara objektif melakukan study tentang kebijakan, serta di perlukan usaha seluruh masyarakat Indonesia untuk menjaga kedaulatan Perikanan dan Kelautan Indonesia karena perikanan dan kelautan merupakan aset indonesia satu-satunya yang dimiliki.

teks : Sari Indriani Putri

Editor : Tri Nur Sujatmiko

Share
Categories: Story | Leave a comment

Happy Birthday Oseanik Unpad dan Nautika ITB

26 Agustus 2016, anggota FDC IPB Sari Indriani Putrid an Intan Destianis Hartati (Diklat 31) mengikuti kegiatan dies natalis Oseanik dan Nautika di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Kegiatan ini dinamakan DIVEROMENT. Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari. Kegiatan yang kami lakukan antara lain sosialisasi ke Sekolah Dasar di Pulau Pramuka, bersih bersih laut, dan transplantasi karang.

Kegiatan dimulai pada hari Jumat, 26 Agustus 2016. Peserta sampai diPulau Pramuka pada pukul 11.00 WIB. Setelah ishoma siang, kegiatan kami adalah sosialisasi ke SD di Pulau Pramuka dengan melukis tempat sampah yang nantinya akan kami letakkan di tersebar di Pulau Pramuka. Setelah sosialisasi, kami melakukan tour Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKPS) kami mengunjugi area pembibitan mangrove yang terletak di depan kantor TNKPS dan kawasan penangkaran penyu. Pada malam hari nya,kami melakukan sesi perkenalan dan breafing untuk kegiatan esok hari nya.

Area Penanaman Mangrove

Area Penanaman Mangrove

dive2

Penangkaran Penyu


Hari kedua tanggal 27 Agustus 2016 kegiatan dimulai pukul 09.00 dan dibagi menjadi dua tim yaitu tim pertama fun dive yang berlokasi di selatan Pulau Panggang atau spot Soft Coral dan tim kedua melakukan trasnplantasi karang di Pulau Pramuka setelah itu, kami melakukan bersih bersih laut yang diadakan oleh Diver Clean Action yang berlokasi di daerah keramba Pulau Panggang. Sampah yang terkumpul kami pisahkan sesuai jenisnya, yaitu sampah plastik, kaca, logam, dll.

1476366341315

Penyelaman setelah melakukan Coastal Clean Up dengan Diver Clean Action

Pada malam hari kami melangsungkan acara puncak dari acara DIVEROMENT yaitu sambutan dari ketua pelaksana, ucapan selamat ulang tahun dari peserta, makan ikan bersama, live music, dan tiup lilin sebagai acara puncak.

dive3

Acara Puncak DIVEROMENT


Teks : Sari Indriani Putri

 

Share
Categories: Story | Leave a comment

Ayo Dukung Kami

poster dukungan

Ayo dukung anggota FDC dalam MantaWatch Internship Program 2016 yang diadakan oleh Guy’sTrust. Program ini akan dilaksanakan di Pulau Komodo dan mereka akan belajar mengenai monitoring dan upaya konservasi pari Manta (pari terbesar di dunia). Tunggu apa lagi, segera tonton dan like video profil mereka di :

app.mantawatch.com/candidates/34    MIKO

app.mantawatch.com/candidates/40    SARI

 

Jangan lupa untuk share ke teman-teman dan kerabat terdekat ya :)

#SaveMantaRays

Share
Categories: Story | Leave a comment

Sayangi, Lindungi, dan Jaga Satwa Indonesia

Kamis, 2 Juni 2016 dua orang anggota FDC IPB mengikuti diskusi WWF yang bertempat di Pullman Hotel, Jakarta pusat. Diskusi tersebut dihadiri oleh pihak WWF sendiri, KKH-KSE, Kawbid Polri, Polda Bali, MUI, Perhimpunan Dokter Hewan, DPR RI, Garuda Indonesia, KEMENLU, Public figure, KKP dll. Dalam acara ini, diskusi yang dibicarakan adalah tentang perdagangan illegal satwal liar yang dilindungi. Pihak WWf sendiri menjelaskan, “perdagangan satwa liar meerupakan bisnis terbesar ke 5 di duniadengan omset 5 triliun. UUD di Indonesia yang menjelaskan tentang perdagangan satwa liar dibahas didalam UU No. 5 tahun 1990, dalam UU tersebut masih banyak satwa liar yang belum masuk kedalam kategori yang harus dilindungi, maka dari itu harus ada perubahan dalam UU tersebut. Contoh dari perdagangan satwa liar adalah perjual belikan gajah yang dilakukan secara online sehingga siapa saja bisa mengakses dan dengan mudah untuk membelinya. Gajah yang jual akan diambil gadingnya yang digunakan untuk perhiasan, pajangan, dll dan dijual d engan harga Rp 1.000.000 – Rp 20.000.000”.

Menurut pak Haerul Saleh (WWF), “ perdagangan satwa liar adalah suatu kejahatan terhadap satwa. Maraknya perdagangan gading gajah menyebabkan stastus gajah menjadu kritis. Dapat diketahui, kritis adalah golongan stasus hewan dibawah punah, itu artinya jika tidak diatasi, maka gajah di Indonesia akan memiliki stastus punah. 3 harimau disumatera mati setiap harinya. Kebutuhan tubuh hewan, dikonsumsi (ketika masih ada), contohnya seperti gading gajah, gading babi, karena mereka masih mengandalkan dan mempercayai terhadap tubuh satwa tersebut untuk perhiasan, untuk dipajang, sifat gengsi manusia,dll. Harimau sumatera memiliki 9 kasus, gajah memiliki 6 kasus, dan orang utan memiliki 2 kasus”

Dari pihak Dirjen Penegak Hukum memiliki kesulitan dalam perdagangan online. Sebab, ketika ditelusuri sampai lokasi, tidak didapatkan tersangka karena orang yang menjual tersebut memiliki banyak alamat dan dari situs yang dilacak merupakan forwad-an dari banyak situs sehingga untuk mencari sumbernya sangat sulit. Tugas dirjen penegak hokum sendiri yaitu bagaiman menjaga supaya habitat dapat diatasi. Dan menurut dirjen penegak hukum, UU No 5 tahun 1990 menerangkan hukuman yang tertera dalam UU tersebut termasuk ringan, karena pihak yang terjerat kasus perdagangan satwa liar hanya dikenakan hukuman 5 tahun penjara dan denda 10.000.000.

Menurut mba Dwi (WWF), tidak hanya satwa yang didarat yang di perjual belikan. Satwa di laut juga memiliki potensi besar untuk diperjual belikan misalnya penyu, dugong, paus, lumba-lumba, whale shark, dll. Penyu adalah satwa laut yang berpotensi di perjual belikan karena semua bagian tubuh penyu dapat dikonsumsi (telur, daging, sisik, karapas). Tingginya penjualan penyu di karenakan permintaan dari pembeli yang tinggi, harga permintaan yang tinggi (di Bali harga penyu sekarang Rp 5-8 juta).

Pihak KKP menjelaskan, selain penyu baru-baru ini adalah masalah whale shark di ambon. Di ambon, whale shark ditangkap sebanyak 2 ekor dan memiliki panjang tubuh mencapai 5 meter. Hasil tangkapan tersebut akan dikirim ke Cina. Selain whale shark, perdagangan satwa liar terjadi pada Parimanta. Parimanta adalah satwa yang statusnya dilindungi penuh sehingga dilarang untuk ditangkap, dikonsumsi, dan di perjualberlikan. Parimata yang ditangkap, diambil insangnya. Daerah yang masih melakukan perjualbelian Parimanta adalah di Kalmakera. Masyarakat di kalmakera menolak Kepmen dikarenakan Parimanta di daerah sana yang mudah di temui dan masyarakat sudah terbiasa akan kegiatan tersebut, dan tidak memikirkan dampaknya. Hukum tiap daerah berbeda karena pasal dalam pasal yang sama, tetapi pendekatan kepada masyarakat yang berbeda.

Pihak Kawid Polri menjelaskan bahwa otoritas Indonesia adalah tidak dapat menyelesaikan masalah untuk satwa di luar Indonesia. Fenomena transictment adalah pertukaran di perdagangan, contohnya adalah gading gajah yang masuk dari luar negeri akan ditukar dengan gading gadah Indonesia. Kerajinan di Bali dan Jogja adalah daerah konsumen terbesar penjualan karapas penyu. Sehingga Polri memiliki unit khusus untuk menyelesaikan masalah ini dengan cara memberi pelatihan LO kepada Polda untuk menyelesaikan masalah perdagangan satwa liar.

Masalah perdagangan satwa liar ini terjadi juga di Bali. Menurut Polda Bali, kasus ini terjadi karena stasus social masyarakat (gensi) dan banyaknya pelabuhan tikus di Bali yang kosong. Satwa yang dilindungi di Bali seperti bibit lobster, moncong babi, penyu,moncong hiu gergaji, dll. Di Bali daging penyu di masak dan dijual di rumah makan babi guling. Penyu merupakan hewan yang dijadikan simbolis dalam acara adat dan istiadat di Bali, semenjak ada peraturan jika penyu tidak boleh ditangkap, masyarakat (pemuka agama) menggantinya dengan hewan lain, walaupun ada beberapa adat dan istiadat masih menggunakan penyu untuk acara adat dan istiadat yang sakral dan harus menggunakan penyu.

Text : Sari Indriani

Share
Categories: Story | Leave a comment